FORMAL Jerman 2016-2017

Di periode ketiga ini, kepengurusan FORMAL Jerman memiliki slogan ´´ Semangat Bersama, Setahun Berkarya´´ dan berikut adalah laskar kepengurusannya.

SUSUNAN PENGURUS FORMAL 2016/2017

Koordinator : Andri Mubarak

Wakil Koordinator : Branindityo Nugroho

Sekretaris: Kasih Ditaningtyas Sari Pratiwi

Bendahara : Hashlin Pascananda Utami

Divisi Internal: Karlina Denistia, Nyityasmono Tri Nugroho

Subdivisi Database: Akhmad Kunio Pratopo

Subdivisi Pelayanan : Muhammad Aulia Alwan, Raynald Daniel Finantar

Subdivisi Internal Communication: Ridzky Anis Advent Yuda,

Subdivisi Internal Bonding: Rizky Pratama Adhi

Divisi Eksternal :  Oktiani Putri, Galuh Ainur Rohmah

Subdivisi Media : Raisatun Nisa, Standy Christianto

Subdivisi Nasi Padang:  M Ardiansyah, Hardani Maulana. Diah Ayu

Divisi Pendidikan : Gabriela Aristia

Subdivisi Formal Berbincang (Forcang): Rima Faiqoh Augustine, Maulana Arifin, Andhika Bintang Mahardhika

Subdivisi Deutsch Lernen (Forcus): Sabhrina Gita Aninta, Miftahussurur Hamidi Putra

Komitmen kami adalah berkarya bersama demi menjalankan visi misi FORMAL Jerman. Sebagai perwujudannya, program kerja kepengurusan periode ketiga ini selama satu tahun kedepan akan di publish kemudian.

Mari menjelajah Würzburg!

Würzburg view (Courtesy: trekearth.com)
Würzburg view (Courtesy: trekearth.com)

Herman Hesse, seorang sastrawan Jerman pernah berujar, ”If I could choose my place of birth, I would consider Würzburg”. Sebuah ungkapan yang pasti akan dimaklumi siapapun yang pernah menjejakkan kakinya di kota kecil ini, termasuk kami yang mengujunginya beberapa waktu lalu.

Terletak di dekat Frankfurt Am Main dan Nürnberg, Würzburg menyuguhkan pemandangan perkebunan anggur sebagai latar belakang kota kecil di tepi aliran sungai Main tersebut. Sebagai bagian dari negara bagian Bavaria, kota seluas 87.6 km persegi ini, memiliki pesona sejarah yang terserak di setiap sisinya.

Würzburg Residence (Courtesy: Wikimedia Commons)
Würzburg Residence
(Courtesy: Wikimedia Commons)

Tak berapa jauh dari Stasiun Utamanya, kita bisa menemui Würzburg Residence, istana yang dahulu diperuntukan sebagai guest house bagi tamu kerajaan lengkap dengan taman yang cantik dan apik. Bagi pecinta karya arsitektur bernuansa Baroque, tempat ini pasti akan memuaskan hati dan mata Anda. Sementara, Istana utama yang dikenal dengan nama Festung Marienberg terletak di atas bukit yang dikelilingi pohon-pohon anggur. Meski cukup jauh, namun Anda tidak perlu khawatir, karena pemerintah kota menyediakan bus yang akan menghantarkan para wisatawan hingga ke gerbang istana.

Festung Marienberg (Courtesy: schloesser.bayern.de)
Festung Marienberg
 (Courtesy: schloesser.bayern.de)

Jalur lain menuju Istana Marienberg yang juga sering ditemput peziarah kota yang menyukai tantangan adalah melewati jembatan tua. Di atas jembatan yang juga merupakan salah satu destinasi wisata Würzburg biasanya para wisatawan menikmati pesona kota, sungai Main sambil meneguk anggur putih yang memang menjadi komoditi unggulan kota ini.

Alte Brücke – The Old Bridge Würzburg (Courtesy: travel.fish)
Alte Brücke – The Old Bridge Würzburg
(Courtesy: travel.fish)

Selain beragam bangunan tua khas Eropa yang sarat sejarah, Würzburg juga menjadi saksi penemuan penting dari ilmuwan ternama yang hingga kini masih digunakan khususnya dalam bidang kedokteran. Ya, hanya sekitar 100 meter dari Stasiun Utama kita akan menemukan laboratorium yang dahulu digunakan Wilhelm C. Rӧntgen untuk beragam eksperimen, termasuk Rontgen yang melegenda itu.

Laboratorium Rӧntgen (Courtesy: Wikimedia.org)
Laboratorium Rӧntgen
(Courtesy: Wikimedia.org)

Demikian ulasan singkat saya tentang kota cantik ini. Banyak hal lain tentang Würzburg yang tidak mampu diwakili oleh tulisan singkat ini. Datangi, jelajahi dan bersiap jatuh hati dengan pesonanya!

 

Kontributor: Vira Agustina, Awardee LPDP Jerman

Muktamar FORMAL Ketiga di Dresden 27-28 Agustus 2016

Pada tanggal 27-28 Agustus 2016 FORMAL Jerman kembali mengadakan acara tahunan muktamar di Dresden dengan agenda yang terdiri dari pemilihan kordinator FORMAL Jerman 2016-2017 dan ajang silaturahim bagi sesama anggota FORMAL Jerman. Kegiatan diadakan di ruang Studentenwerksforum Dresden dan diikuti oleh 27 anggota FORMAL Jerman yang berdomisili di berbagai kota di Jerman.  Dalam AD ART FORMAL Jerman dijelaskan bahwa Muktamar FORMAL merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di FORMAL Jerman dan diadakan setahun sekali dalam satu tahun kepengurusan.

Proses pemilihan kordinator FORMAL Jerman 2016-2017 diawali dengan proses penjaringan nama bakal calon yang telah dilaksanakan sejak bulan Juli yang memunculkan tiga nama calon koordinator FORMAL Jerman 2016-2017 yaitu Andri Mubarak, Nyityasmono Tri Nugroho dan Ihsan Muchsin. Sebelum dilakukan proses pemilihan maka diadakanlah penyampaian visi misi dan program kerja melalui skype pada tanggal 14 Agustus 2016 yang diikuti oleh 22 anggota FORMAL Jerman.

Selain mengadakan kegiatan serah terima jabatan dari kepengurusan 2015-2016 yang diwakili oleh koordinator FORMAL Jerman 2015-2016 yaitu Fauzan Saputra ke koordinator terpilih, Andri Mubarak, diadakan juga kegiatan seminar bertema kesehatan yang diisi oleh Dokter Yasmon (Nyityasmono Tri Nugroho) yang membahas penyakit AAA dan Mba Zulfa yang membawa topik intrabeam.

 Serah terima jabatan Koordinator Formal 2015-2016 Fauzan Saputra (kiri) kepada Koordinator Formal 2016-2017 Andri Mubarak (kanan)

Serah terima jabatan Koordinator Formal 2015-2016 Fauzan Saputra (kiri) kepada Koordinator Formal 2016-2017 Andri Mubarak (kanan)

 

 

14103021_10210499005536251_7227583007438402469_o

Pemberian plakat pembicara seminar oleh Aji Pratama Rendragraha (kiri) kepada Dokter Yasmon (Nyityasmono Tri Nugroho)

 

Setelah kegiatan seminar, acara yang ditunggu-tunggu adalah tour kota Dresden dimulai dengan mengelilingi altsadt Dresden dan berakhir di tepian sungai Elbe. Kegiatan tour kota Dresden pun berlanjut pada keesokan harinya, seluruh anggota FORMAL Jerman pun mengunjungi salah satu ikon-nya Dresden yaitu Bastei pada pagi hari minggu.

14117893_10210382894833769_5945510310545809566_n

14191963_10205888355601719_306773672355474331_n

14199740_10205846478954829_5594839856256850138_n

Keluarga Besar FORMAL  di Muktamar Dresden 27-28 Agustus 2016

 

Terimakasih banyak kepada seluruh teman-teman Dresden yang telah membantu menyukseskan acara muktamar kali ini, yaitu Mas Aji, Mas Fakhri, Mas Fatah, Mba Santi, Mas Ubed. Terimakasih juga kepada kepengurusan FORMAL Jerman 2015-2016 dan selamat bekerja kepada kepengurusan yang baru. Sampai bertemu di Muktamar FORMAL Jerman 2017.

TAK BISA PINDAH KE LAIN HATI: LOA DARI UNI HEIDELBERG

Walaupun harus menunggu jeda yang cukup panjang, mengingat saya telah dinyatakan menjadi penerima Beasiswa LPDP sejak Juni 2015, saya tidak menyesali keberangkatan pada September 2016 ini. Bagi beberapa saudara dan teman saya, keberangkatan seharusnya masih terkejar untuk mulai studi pada Oktober 2015 dengan mengambil program studi di universitas-universitas di UK. Namun demikian, sejak awal saya mendaftar beasiswa, saya telah memutuskan untuk memilih Universität Heidelberg sebagai universitas tujuan studi.uni-heidelberg

Gambar. Mannheim Medical Faculty, Heidelberg University, dokumentasi pribadi

Saya memilih program studi Biomedical Engineering di Department of Radiation Oncology, Medical Faculty Mannheim, Universität Heidelberg. Program ini benar-benar yang saya inginkan mengingat kurikulum yang sangat sesuai dengan konsentrasi selama S1. Kuliah di Jerman juga menguntungkan dari segi pembiayaan studi karena untuk program internasional pun terhitung lebih murah daripada kuliah di UK misalnya. Sebagai perbandingan, tuition fee program saya sebesar EUR 2,050/semester atau EUR 8,200 selama studi, sedangkan untuk program yang sama di UCL menghabiskan biaya sebesar GBP 23,020 (± EUR 27,000 ) Full Time selama 1 tahun. Ya, walaupun saya dapat beasiswa dan tidak perlu memikirkan uang SPP, tapi saya memikirkan berapa banyak orang lain yang bisa diberikan beasiswa dengan penghematan sebesar ini.

 

Dalam perjalanan setahun masa pencarian LoA, banyak pihak memberi saran (dan desakan :D) untuk segera memulai studi dan mendaftar beberapa program lain sebagai cadangan. Saya mendaftar paling tidak 3 program, yaitu program studi Medical Physics, McGill University (Kanada), Physics  di Faculty of Physics and Astronomy, Universität Heidelberg dan Biomedical Engineering, Medical Faculty Mannheim, Universität Heidelberg. Deadline 2 program pertama bersamaan, yaitu 15 Januari 2016, sedangkan program ketiga, deadline pada 15 April 2016.

 

Secara umum syarat yang diminta untuk ketiga program tersebut dapat dirangkum dalam tabel berikut:

 

Checklist dokumen Medical Physics

McGill University

(September 2016)

Physics

Uni Heidelberg

(April 2016)

Biomedical Engineering

Uni Heidelberg

(September 2016)

Fotokopi ijazah dan terjemahan yang dilegalisir
Fotokopi transkrip dan terjemahan yang dilegalisir
Motivation Letter
Recommendation letter (2)
CV
Formulir pendaftaran
IELTS min. 6.5 (overall), no less than 6 (each)
Proof of Financial Support
School leaving certificate (Ijazah SMA, fotokopi ijazah dan terjemahan yang dilegalisir)
Keterangan [Online Application]

Biaya pendaftaran: CAD 107.39

Pengiriman IELTS:

Rp 350.000

 

 

[Offline Application]

Biaya pendaftaran:

Pengiriman dokumen:

USD 24.30

 

[Offline Application]

Biaya pendaftaran:

Pengiriman dokumen:

USD 24.30

Pengiriman IELTS:

Rp 350.000

 

 

Persiapan Dokumen

Semua dokumen yang diminta saya siapkan dengan sebaik-baiknya, termasuk dengan meminta bantuan teman untuk proofread motivation letter dan CV. Dua dokumen ini penting karena merupakan variabel yang masih dapat kita sempurnakan. Sebagai tips, carilah template CV dan panduan penulisan konten pada motivation letter yang berlaku umum bagi universitas atau negara tujuan studi. Untuk surat rekomendasi, mintalah kepada dosen yang mengenal kita dengan baik, bisa itu dosen mata kuliah, dosen pembimbing akademik, atau dosen pembimbing skripsi. Bagus juga untuk meminta surat rekomendasi dari atasan di lembaga penelitian tempat kita pernah magang atau bekerja. Dokumen lainnya yaitu formulir pendaftaran dan bukti finansial itu adalah hal administratif yang mudah didapat. Selebihnya, ijazah, transkrip, dan sertifikat bahasa adalah dokumen yang sudah jadi dan tidak dapat diubah lagi, kecuali mau mengulang tes lagi misalnya.

 

Catatan: Biasanya dalam sebuah halaman informasi mengenai pendaftaran, terdapat Admission Regulation yang mengatur mengenai sistem penilaian dan pemeringkatan pada proses penerimaan. Dengan mengetahui regulasi ini, kita dapat lebih meningkatkan kualitas dokumen yang kita kirimkan sekaligus mengetahui peluang kelulusan kita dalam program tersebut.

 

Online Application

Untuk dapat submit seluruh dokumen, kita harus memenuhi syarat pembayaran application fee, biasanya dengan memberikan informasi kartu kredit. Selebihnya pengiriman dilakukan secara mudah dengan cara mengunggah dokumen dan mengisi kolom-kolom pertanyaan data diri kita. Sistem ini memungkinkan kita untuk menyelesaikan aplikasi sampai menit-menit terakhir pada tanggal deadline yang menyesuaikan waktu setempat.

Untuk IELTS, sebenarnya sistem online ini lebih memudahkan karena kita hanya perlu meminta test center kita untuk mengirimkan secara elektronik. Dalam kasus saya, program studi di McGill tersebut belum masuk daftar  test center saya sehingga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengiriman.

 

Offline Application

Maksud dari offline application adalah pengiriman dokumen dalam bentuk fisik. Untuk keperluan ini, saya mempercayakan kepada Pos EMS. Saya pengalaman 3 kali mengirimkan dokumen (ke Kota Mannheim dan Kota Heidelberg), semuanya hanya membutuhkan 4 hari untuk sampai. Biaya yang diperlukan untuk pengiriman dihitung per negara, yaitu sebesar USD 24.30 ke Jerman untuk dokumen dengan berat maksimal 250 gram. Tarif paling update dapat dicek di sini (http://ems.posindonesia.co.id/tarifems.html). Tak lupa mengirimkan sertifikat IELTS yang tidak bisa dikirim berbarengan dengan dokumen yang lain karena duplikat sertifikat IELTS hanya bisa dikirimkan oleh test center kita. Alamat yang dituju disesuaikan dengan alamat program studi masing-masing mengingat Uni Heidelberg memiliki fakultas yang terletak di kota lain, misalnya kampusku di Kota Mannheim.

 

Pengumuman: Habis Gelap Terbitlah Terang

Sekitar bulan Maret-April, pengumuman dari McGill dan Physics Heidelberg datang hampir bersamaan. McGill menolak aplikasi saya dengan alasan aplikan yang banyak dan sangat kompetitif. Tak berselang berapa lama, surat dari International Office Uni Heidelberg pun datang yang berisi penolakan yang sama, kali ini dengan alasan mata kuliah yang diambil di S1 belum memenuhi 50% mata kuliah yang dipersyaratkan untuk ambil master di sana. Belajar dari pengalaman ini, saya menyempurnakan dokumen saya terutama motivation letter, harus benar-benar disesuaikan dengan program yang dituju. Kali ini saya memang jauh lebih optimis karena track record studi dan pengalaman penelitian sebelumnya sejalan dengan program studi ini. Akhirnya, sekitar minggu kedua bulan Mei, saya mendapatkan notifikasi via email mengenai kelulusan saya, bersambung pengiriman lembar LoA ke alamat saya sebulan setelahnya.

 

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa intuisi kita selalu menuntun pada hal yang benar. Hanya saja, terkadang kita mempunyai keraguan dan menyebabkan ketidakefektifan tenaga, pikiran, dana, bahkan emosi. Namun demikian, proses trial dan error ini bermanfaat juga dan patut dicoba sebagai ajang latihan sebelum ujian yang sebenarnya (admission program studi yang diprioritaskan). Jangan takut ditolak karena adanya penolakan tidak selalu berarti kita tidak mampu, melainkan menjadi arahan menuju posisi yang paling sesuai untuk kita.

 

Penulis:

Sita Gandes Pinasti, PK 38