Mengintip Keindahan Dunia dari Balik Kacamata dan Memilih Optik di Jerman

Mata adalah jendela dunia yang kita butuhkan untuk melihat keindahan dunia. Apa jadinya kalau kita mempunyai masalah dengan penglihatan kita, tentu akan membatasi aktifitas kita. Apalagi untuk para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu, akan sangat menyulitkan apabila kita tidak dapat melihat penjelasan presentasi dosen di depan kelas, sulit membaca referensi kuliah, atau terhambat untuk menyelesaikan tugas. Beruntungnya, kacamata tercipta untuk menolong orang-orang yang membutuhkan dalam kesehariannya, terlepas dari berbagai masalah mata yang memang jenisnya banyak sekali.

Bagi kita yang sudah menggunakan kacamata sejak dari Indonesia, tentu tidak akan terlalu menjadi masalah. Kita sudah mempunyai langganan optik untuk kacamata kita dan sudah tahu apa yang harus kita lakukan dan yang kita butuhkan. Namun bagaimana bagi kita yang membutuhkan kacamata setelah berada di Jerman untuk kali pertama, atau bagaimana jika kita harus mengganti kacamata lawas yang kita punya? Tak perlu khawatir, ada banyak optik di Jerman dan tinggal datang saja ke optik terdekat di kota Anda. Walaupun tentu saja tidak sesederhana itu juga, informasi dan rekomendasi terkait optik yang bagus tentu saja dibutuhkan. Tulisan ini coba mengulas pengalaman kami dalam memilih optik favorit di Jerman.

Kami sekeluarga, dengan dua orang anak, membutuhkan dan menggunakan kacamata selama di Jerman ini dengan permasalahannya masing-masing. Setelah melalui penelusuran informasi, rekomendasi dan mencoba beberapa optik di kota kami, pilihan dijatuhkan kepada Optik Fielmann (bukan iklan loh ya..). Ada beberapa alasan yang mendasarinya, diantaranya adalah :

  1. Mempunyai jaringan yang luas di kota-kota di Jerman.

Coba saja tengok sambil jalan-jalan pusat kota Anda di Jerman, kalau masih belum yakin juga, coba cek dulu di websitenya www.fielmann.de. Tentu dengan jaringan yang luas ini akan memudahkan kita untuk memperoleh atau untuk memperbaiki kacamata kita.

  1. Bahasa Inggris

Apabila merasa mempunyai keterbatasan dalam bahasa Jerman, tidak perlu khawatir juga, mereka mampunyai staf yang biasanya bisa berbahasa Inggris. Teringat seorang kawan yang sampai merequest staf yang bisa berbahasa Inggris saat kunjungan pertamanya ke optik ini.

  1. Pilihan kacamata yang beragam

Mereka mempunyai variasi yang sangat banyak, mulai dari frame kacamata yang paling mahal dengan merek terkenal hingga frame yang gratis saja, atau dikenal dengan nama „null tarif“ dalam istilah mereka. Seperti juga di optik Indonesia, saat membeli kacamata, harga final adalah kombinasi antara harga lensa dengan harga frame. Harga lensa tergantung resep kacamata kita yang diberikan oleh dokter atau hasil pemeriksaan di optik. Pilihan produsen lensa pun turut mempengaruhi harga final lensa yang akan kita pesan. Sedangkan untuk frame, kita bisa memilih sesuai keinginan dan budjet kita. Frame dengan istilah „Null tarif“ pun tidak kalah keren dan berkualitas jika dibandingkan dengan frame bermerek dan berbayar lainnya. Saya dan beberapa kawan lainnya pun memilih tipe ini dan sejauh ini tetep oke kok.

  1. Staf yang profesional

Ada satu hal yang menarik kalau kita melihat pegawai-pegawai di optik ini; semuanya memakai kacamata! Mungkin ini salah satu syarat penerimaan pegawainya, entahlah. Terlihat keren,elegan dan cantik tentunya, petugasnya masih muda-muda dan berganti-ganti kalau di optik langganan kami. Uups, kembali ke laptop.

Kita bebas memilih frame yang kita mau, namun kalau kita bingung dengan banyaknya frame yang berjejer, bisa kok kita minta petugasnya untuk mencarikan frame yang cocok buat kita. Kalau tertarik dengan „Null tarif“ tinggal sampaikan juga, dan kita tinggal duduk manis. Setelah mendapatkan frame yang cocok, baru kita memilih lensa yang sesuai dengan resep yang kita miliki dengan bantuan petugas tadi. Tak perlu lama, apabila sudah deal dan diukur urusan teknisnya, kita akan diberikan tanda bukti untuk mengambil kacamatanya apabila sudah selesai. Biasanya pesanan diselesaikan dalam waktu maksimal 2 minggu, dan diinformasikan melalui SMS.

  1. Bengkel perbaikan

Apabila ada masalah dengan kacamata kita, tak perlu ragu untuk kembali ke optik dan meminta perbaikan kacamata. Mereka menyediakan booth khusus untuk pebaikan ini dan dilayani oleh staf mereka. Sebetulnya sih tidak apa-apa juga kalau kita tidak beli kacamatanya tidak di optik ini, terus minta bantuan untuk diservice di sini, tinggal masuk saja, toh tidak ditanyakan dari mana belinya. Tentu saja hanya perbaikan minor yan bisa dilayani, seperti frame yang bengkok, lensa yang lepas, dll. Kalau lensa pecah tentu Anda harus mengganti baru.

  1. Tawaran Asuransi

Saat bertransaksi biasanya ditawarkan, apakah akan membeli polis tambahan untuk kacamata yang kita beli atau tidak. Harga polisnya sekitar 10 € untuk satu tahun, hasil kerjasama dengan perusahaan asuransi Hanse Merkur. Apabila kacamata tersebut rusak, terjatuh, terinjak, lensa pecah, hilang, atau resepnya berubah, maka dapat dicover oleh asuransi sebesar 70% dari harga finalnya, sedangkan sisanya kita sendiri yang bayar. Hal ini akan sangat bermanfaat terutama bagi kacamata anak-anak, yang biasanya rentan terhadap situasi di atas. Jadi benefit ini bisa dimanfaatkan. Oh iya, saya tidak terlalu yakin kalau asuransi publik akan membayar biaya pembuatan kacamata dewasa. Kalau untuk anak-anakmasih memungkinkan dengan cara reimburse ke perusahaan asuransi publik kita (tapi saya belum pernah mencobanya). Sedangkan untuk asuransi privat, ini juga tergantung polis yang kita pegang, bisa mengcover hingga maksimal limit tertentu. Untuk kasus saya, asuransi privat saya mengcover hingga 100 €, lumayan lah.

  1. Pemeriksaan gratis

Ini juga kelebihan optik ini yang saya suka. Mereka mempunyai alat yang cukup canggih dan tidak kalah dengan klinik privat dokter mata. Sehingga tingkat akurasi kacamata dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai catatan saja, kalau pemeriksaan di optik ini hanya diperuntukan bagi dewasa, sedangkan untuk anak-anak hanya bisa dilakukan oleh dokter mata, dan optik hanya menerima resep jadi saja.

Bila Anda tidak suka dengan kacamata yang Anda dapatkan, tinggal kembalikan saja dalam waktu 2 minggu, dan uang akan dikembalikan. Untuk itu bagi Anda yang mempunyai masalah dengan mata Anda, tak perlu ragu untuk segera mendatangi dokter mata Anda atau optik secara langsung. Tak perlu juga menunggu saat mudik ke Indonesia agar mendapatkan harga miring. Semakin cepat masalah penglihatan Anda terselesaikan, semakin cepat pula keindahan dunia ini akan Anda rasakan.

Penulis : M. Yusuf Awaluddin

-S3 Bremen Universität-

Tips dan Trik Membawa Keluarga Langsung Diawal Perkuliahan ke Jerman

Melanjutkan studi di Jerman memang tidaklah lengkap tanpa keluarga. Berbeda dengan studi di negara ASEAN atau Australia yang relatif dekat, studi di Jerman memiliki jarak tempuh kerinduan yang lebih jauh 😀 . Kebanyakan mahasiswa yang menempuh studi di jerman memang memboyong keluarga mereka setelah 3 sampai 6 bulan setelah mereka menapaki jerman. Hal ini umum dijumpai dan banyak tertulis di blog-blog mahasiswa master maupun doktorand. Namun beberapa bulan itu akan terasa sangat lama dan menyiksa. Terutama bagi pengantin baru (atau yang masih merasa pengantin baru :D) atau keluarga yang baru memiliki anak usia balita, yang sedang lucu-lucunya. Hal itulah yang melatari perjuangan beberapa orang untuk bisa bepergian bersama dari awal. Alhamdulillah, saya dan keluarga (istri dan dua anak saya) diberikan kemudahan untuk bisa berangkat bersama-sama ke Jerman pada bulan agustus 2016. Dalam tulisan ini saya akan berbagi beberapa catatan ketika saya mengurus visa keluarga dari awal.

A. Pastikan anda bisa membawa keluarga berbarengan

Pertama sekali yang harus dilakukan adalah menghubungi Ausländerbehörde (ABH) kota setempat. Ausländerbehörde adalah kantor imigrasi kota. Merekalah yang menentukan apakah kita boleh membawa keluarga langsung atau tidak. Kedutaan hanya menerima berkas saja. Alamat email Ausländerbehörde bisa didapat dengan meng-google „ausländerbehörde (spasi) nama kota“. Biasanya email resmi berdomain resmi dibelakangnya (e.g blablabla(at)luebeck(dot)de atau blablabla (at)hamburg(dot)de) walaupun tidak semuanya seperti itu.

Tanyakan via email kepada ABH apakah kita bisa membawa keluarga langsung ke jerman bersama kita. Tentu dengan memperkenalkan diri dahulu (nama, asal negara, keperluan di jerman (studi), istri dan jumlah anak dan umurnya, dan yang paling penting adalah keuangan kita selama dijerman (besaran beasiswa dll). Setelah itu tanyakan syarat apa saja yang harus dipenuhi untuk bisa membawa keluarga langsung bersama kita.

Jika ABH menjawab boleh. Maka bukti email tersebut di print untuk dijadikan bukti ketika membuat visa nanti (jika diperlukan—backup document). Jika mereka menjawab tidak, coba lobby ulang dengan pendekatan lain 😀

 

B. Persiapan berkas visa

Selanjutnya adalah mempersiapkan berkas. Mempersiapkan berkas keluarga memang membutuhkan kesabaran serta ketelitian ekstra serta dana yang kadang-kadang ekstra juga. berkas visa kumpul keluarga langsung ini pada dasarnya dipersiapkan seperti layaknya visa family reunion biasa. Ada banyak blog yang menuliskan cara mempersiapkan dokumen visa kumpul keluarga berseliweran di internet. Salah satunya adalah ini :

http://lpdp-jerman.org/mengurus-visa-family-reunion-ke-jerman/

dan ini :

https://mellyloveskitchen.com/2014/11/29/visa-kumpul-keluarga-ke-jerman/

Untuk menghindari pengulangan (Sebenarnya karena males nulis :P) maka saya akan menyoroti hal-hal urgen saja terkait membawa keluarga langsung ini.

Berikut syarat yang pernah saya catatkan untuk membawa istri dan anak :

  1. Passport dan dua lembar fotocopy passport (istri dan anak)

Fotocopy dibagian yang ada keterangan identitas dan tandatangan.

  1. Dua rangkap formulir permohonan

Formulir  permohonan diisi lengkap dengan huruf kapital, soalnya handwriting jerman agak berbeda dengan indonesia.

Untuk waktu keberangkatan bisa diperkirakan saja kapan, tergantung kapan (waktu beasiswa mulai berlaku misalnya).

Untuk alamat di jerman dituliskan alamat sesuai kontrak wohnung (lihat dibawah).

Untuk formulir anak, jangan lupa untuk ditandatangani oleh KEDUA orang tua dibagian yang memerlukan tanda tangan.

  1. Dua paspoto terkini

Pastikan mengikuti aturan paspoto untuk pasport, seperti  80% wajah dsb. Nama pemilik foto dituliskan dibelakang foto untuk menghindari tercecer.

  1. Buku nikah (asli dan fotocopy)

Cara melegalisirnya bisa merujuk pada dua link yang saya tautkan diatas. Pastikan yang anda fotocopy adalah setelah semua terlegalisasi (sudah mencakup terjemahan bahasa jerman dan stempel legalisasi dari kedutaan)

  1. Akte kelahiran anak (asli dan fotocopy)

Akte ini dilegalisasi merujuk pada dua link yang ada diatas. Pastikan yang anda fotocopy adalah setelah semua terlegalisasi (sudah mencakup terjemahan bahasa jerman dan stempel legalisasi dari kedutaan). Akte orang tua tidak perlu dilegalisasi.

  1. Surat keterangan dari pasangan yang tinggal di jerman (asli dan fotocopy)

Surat ini disebut dengan familienzussamenführung. Istri dan anak masing-masing harus dibuatkan surat ini (suratnya sama) dan dirangkap masing-masing dua eksemplar. Pada visa family reunion (dimana keluarga menyusul kemudian) lembaran ini distempel oleh ABH kota setempat. Namun karena kita ingin membawa keluarga diawal, maka hal tersebut tidak diperlukan. Berikut saya lampirkan contoh familienzussamenführung:

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

                                                                                                                                                                                       (nama pengaju)

(alamat)

(nomor hape)

(email)

 

Deutsche Botschaft

Jalan MH thamrin I

Jakarta, Indonesien

10310

Tel +62 21 39855000

Jakarta, (tanggal)

Familienzussamenfuehrung

 

Sehr Geehrte Damen Und Herren,

 

Mein Name ist (nama pengaju) und ich interessiere mich fuer eine zussamenfuehrung meiner Familie in Deutschland.

 

Ich begin meine Studie  von (tanggal perkiraan mulai) bis (Tanggal perkiraan selesai)  an der  (nama institusi tempat studi di jerman)  (nama supervisor jika doktorand) in (nama kota), mit dem Angesterben Abschluss (nama gelar akhir jika selesai studi .e.g Doktor rerum Naturalium (Dr.rer.nat)).

 

Ich habe eine stipendium von (nama beasiswa jika ada//dalam bahasa jerman). Dieses Stipendium garantiert mir, dass auch meine Familie warhrend der Zeit meines Studium in (nama kota) im Rahmen einer Familiezussamenfuehrung nach Deutschland kommen kann und in Deutschland finanziell abgesichert ist.

 

Es handeln sich um folgende Personnen:

 

Nachname Vorname Geburstdatum Adresse
Nama belakang istri Nama depan istri Tanggal lahir istri Alamat di indonesia
Nama belakang anak pertama Nama depan anak pertama Tanggal lahir anak pertama Alamat diindonesia
Nama belakang anak kedua Nama depan anak kedua Tanggal lahir anak kedua Alamat di indonesia

 

Wir sind sehr an einer erfolgreichen Beantragung interressiert und mochten daher alle erforderlichen Unterlagen bei der Einreichung  zur Verfuegung stellen.

 

 

Hochachtungsvoll

 

(nama pengaju)

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-
*Yang dicetak miring dan tebal adalah kolom yang harus anda isi sendiri. Tanda kurung dihilangkan

**Nama pengaju adalah nama anda– yang akan menempuh pendidikan di jerman.

 

  1. Sertifikat A1 asli dan fotocopy

Istri saya TIDAK menggunakan sertifikat bahasa apapun.  Syarat ini amatlah berat terutama bagi yang tidak berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Apalagi jika istri anda sedang mengasuh anak kecil yang tidak bisa ditinggal. Berat, karena untuk test saja memerlukan waktu 2-3 hari termasuk perjalanan belum lagi untuk mengambil hasil tes. Bagi kami yang berdomisili nun jauh di ujung sumatera ini, itu artinya tiket pesawat dan hotel seharga jutaan rupiah. Namun mengapa istri saya bisa pergi tanpa A1?

Aturan mengenai kemampuan bahasa jerman dapat dilihat ditautan berikut :

http://www.jakarta.diplo.de/contentblob/3453920/Daten/4652545/H8_id__Deutschkenntnisse.pdf

Dalam poin pengecualian disebutkan kalau pasangan anda bisa tidak memiliki sertifikat bahasa jerman jika memiliki ijazah S1 sehingga bisa bekerja. Atau hanya menemani sementara di Jerman. Dalam hal ini saya mempersiapkan keduanya. Untuk poin pertama yang harus dipersiapkan adalah ijazah S1 istri dan print out Anabin mengenai universitas almamater istri. Apa itu Anabin? Anabin adalah situs untuk melihat apakah institusi kita diakui di jerman atau tidak. Berikut linknya

http://anabin.kmk.org/no_cache/filter/institutionen.html

Buka dibagian „suche“ –cari—search (dibagian atas), masukkan nama negara dan pilih institusi tempat istri atau suami anda bekerja. Nanti akan keluar hasilnya. Jika hasilnya H+ maka institusi tersebut diakui dijerman which is good. Namun jika hasilnya H+/- maka jangan putus asa dulu. Karena itu berarti bisa diakui dan bisa tidak, which mean masih ada kesempatan. Hehehe.

Hasil Anabin ini di print berikut dengan keterangan makna H+, H+/- yang ada dibagian „info“ di link ini

http://anabin.kmk.org/no_cache/filter/institutionen.html

Ijazah S1 (atau S2 atau S3) pasangan anda beserta hasil print Anabin ini akan jadi bukti bahwa istri/suami kita eligible untuk ke jerman tanpa sertifikat A1 bahasa jerman. Ada yang mengatakan syarat ini hanya untuk awardee DAAD. Namun hal tersebut tidak dicantumkan di website. Jadi anda bisa mencobanya.

Kita bisa juga mencoba dengan cara kedua yaitu dengan menyertakan bukti bahwa istri kita hanya mendampingi kita sementara. Saya menggunakan surat „sakti“ dari professor saya yang menyatakan kurang lebih bahwa: saya adalah calon phd student ditempatnya, istri dan anak saya perlu mendampingi saya ikut dalam proses belajar saya and the most important istri dan anak saya HANYA akan menemani saya sampai saya selesai study (cantumkan masa studi dari kapan sampai kapan) dan akan KEMBALI ke indonesia setelah itu. Surat sakti ini terbukti mengantarkan istri saya berhasil ke Jerman barengan dengan saya. Hehehe. FYI, saya menyiapkan juga dokumen pertama (Anabin), namun belum sempat dikeluarkan, karena pihak kedutaan sudah legowo menerima dokumen kedua ini.

Walaupun tidak ada sertifikat A1, saya tetap merekomendasikan pasangan anda untuk belajar bahasa jerman dasar.

 

  1. Bukti tempat tinggal pasangan di jerman

Ini adalah  bagian paling rumit dalam kepengurusan visa menurut saya. Rumit karena kita harus mendapatkan kontrak rumah di Jerman selagi kita berada di Indonesia.

Kenapa rumit, karena kedutaan Jerman/ABH ingin kita punya tempat tinggal dulu di Jerman jika bawa keluarga sebelum mendapatkan visa (which is make sense, gak mungkin juga sekeluarga tidur di mesjid atau di gorong-gorong kan?!), tapi penyewa rumah di Jerman juga ingin kepastian bahwa kita benar-benar pasti akan datang ke Jerman, yaitu berupa bukti visa, karena mereka tidak ingin kehilangan penyewa potensial lain yang ingin menyewa tempat mereka hanya gara-gara orang yang belum nyata wujudnya akan tiba di Jerman. Jadi lingkaran birokrasi ini benar-benar menguras airmata (tsah). Penyewa rumah di Jerman umumnya ingin bertemu tatap muka langsung dengan calon pengontraknya. Saya sangat terbantu oleh professor saya yang begitu baiknya mau bersusah payah mencari wohnung untuk keluarga saya. Terbilang puluhan wohnung sudah dijajaki, ada yang langsung menolak, ada yang php setelah menerima (jadi curcol). Namun impian untuk mendapatkan wohnung selagi kita di Indonesia bukanlah mustahil. Dalam kasus saya, saya membutuhkan waktu kurang lebih 5 bulan untuk bisa mendapatkan wohnung keluarga di jerman.

Cara lain yang bisa dicoba adalah menggunakan teman yang sudah ada di kota tersebut. Tapi teman tersebut harus bisa meyakinkan penyewa bahwa anda benar-benar akan datang ke Jerman. Pada kasus saya, akhirnya saya mendapatkan wohnung dari lobby professor saya kepada temannya yang juga pengusaha real-estate di kota tempat saya studi. Banyak kasus juga dimana orang Indonesia punya kenalan dengan pengusaha real-estate atau kenal dekat dengan penyewa rumah. Ini bisa dicoba. Yang paling penting adalah anda bisa mendapatkan KONTRAK TERTULIS ATAS NAMA ANDA yang tidak mungkin didapat jika anda menumpang sementara dirumah teman atau zwischenmiete.  Pastikan juga besar wohnung sesuai dengan kualifikasi. Kualifikasi besar wohnung ini harus anda tanyakan ke ABH via email. Dan bukti percakapan tersebut di print sebagai back-up document kalau-kalau kedutaan menganggap besar wohnung anda tidak mencukupi syarat.

  1. Bukti kecukupan keuangan

Ini bisa digantikan dengan surat keterangan dari beasiswa anda. Tapi anda harus pastikan anda menanyakan dahulu kepada Ausländerbehörde (lagi) mengenai berapa besaran uang yang harus anda sediakan untuk bisa membawa keluarga ke jerman. Terlebih dahulu ceritakan bahwa anda memiliki beasiswa yang menanggung keluarga (jika ada, contohnya LPDP). Jika jumlah yang di minta oleh ABH ini sesuai dengan budget anda, maka email ABH ini anda print, untuk dijadikan backup ketika membuat visa. Pihak kedutaan terkadang agak skeptis dengan biaya beasiswa, karena dinilai tidak cukup untuk menghidupi keluarga. Namun hal ini akan terbantah jika anda menunjukkan surat dari ABH tersebut. Namun apabila ABH menyebutkan jumlah yang agak kurang rasional bagi kondisi keuangan anda, mungkin anda bisa mempertimbangkan untuk melobi kembali ABH tersebut. Jangan berputus asa 😀

  1. Biaya visa 60 euro per orang

Biaya visa ini dibayarkan dalam rupiah. Jumlahnya seringkali melebihi kurs euro yang umumnya dipakai. Alangkah baiknya jika membawa uang lebih, termasuk pecahan-pecahan sepuluh ribu atau dua puluh ribu. Untuk anak-anak dibawah 12 tahun biayanya hanya 30 euro per orang.

  1. Asuransi perjalanan

Syarat ini tergolong baru. Asuransi perjalanan (bukan asuransi kesehatan saja) biasanya mencakup 90 hari terhitung mulai dari kapan kira-kira kita akan berangkat. Masing-masing sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang akan dibawa dan difotocopy dua rangkap.

 

C. Hal lain yang harus diperhatikan

Sekali lagi yang menentukan anda diterima atau tidak adalah ABH. Kedutaan hanya menyaring berkas saja. Adakalanya kedutaan tidak ingin berkas tersebut dikembalikan karena kurang lengkap, karena itu terkadang seleksi berkas dikedutaan sangat ketat. Tapi hal ini bisa dilalui jika kita membawa dokumen tertulis lengkap (baik dari percakapan email dengan ABH maupun info resmi dari website) sehingga kita punya amunisi yang kuat.

Dokumen yang anda bawa sebaiknya masing masing difotocopy rangkap dua (minimal). Hal ini guna mengantisipasi penundaan di loket kedutaan, secara fotocopy amat sangat jauh dari kedutaan (yang terdekat sih ada, tapi cukup untuk membobol kantong anda :D)

Pasangan anda harus hadir ketika anda mengajukan visa di kedutaan. Karena memerlukan sidik jari untuk kelengkapan dokumen. Anak-anak tidak harus hadir.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, walaupun membawa keluarga merupakan sesuatu yang membahagiakan, pastikan anda memiliki pendamping untuk mengenal lingkungan baru di kota tujuan anda. Karena beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa baru tentu tidak mudah. Apalagi yang beradaptasi tidak hanya satu orang tetapi satu keluarga. Pendamping sangat saya anjurkan terutama untuk mereka yang belum pernah ke Jerman sebelumnya.

Dan yang terakhir adalah doa yang kencang. Ada tekanan besar ketika kita mulai membuat list kebutuhan visa keluarga ini. Bahkan saya sempat pesimis melihat banyaknya to-do-list yang harus dikerjakan dan mengingat belum ada trace record tulisan orang yang membawa keluarga diawal (setidaknya setelah saya googling cukup dalam). Karena itu doa yang kencang itu sebuah keniscayaan.

 

Semoga bermanfaat.

Dalam kehangatan keluarga dikota Lübeck yang dingin.

 

Penulis:

Maulana Ikhsan (PhD student in Fraunhofer EMB/Universität zu Lübeck)

Goresan di 60 Hari Pertama Bergabung dalam Grup Riset di Jerman

Disiplin, keselamatan kerja, dan tidak ceroboh merupakan hal-hal penting yang memerlukan usaha kuat untuk bisa diimplementasikan saat kerja di laboratorium di Jerman. Perlu ketenangan ekstra saat bekerja dan catatan-catatan penting agar kekeliruan kerja yang membahayakan diri dan orang lain tidak terjadi.

 

Saat saya melakukan meeting bersama kedua professor saya, Todd Marder dan Udo Radius, ada beberapa quotes yang bagi saya menarik dari beliau:

 

 “It is not a problem in not knowing something, but not wondering is.”

 

“If you say yes, just to make me happy, but it isn’t true, I will be angry.”

 

Todd B. Marder adalah seorang American Professor dengan 15000 sitasi. Beliau memperoleh penghargaan salah satunya dalam bidang main ement (khususnya Boron) pada tahun 2006, dan bidang organometallic pada tahun 2015 dari Royal Chemical Society 2015 (sebuah chair institute dalam bidang inorganic chemistry di Universität Würzburg). Adalah sebuah kenyataan yang bak khayalan tatkala beliaulah yang menjadi dosen pembimbing saya disini dalam melaksanakan riset.

 

Selama dua minggu saya menjalani training khusus mengenai menjalani prosedur atau teknik riset di laboratorium. Kacamata untuk keselamatan kerja di lab adalah salah satu safety tools yang wajib dipakai saat bekerja di dalam lab di Jerman. Mungkin kita di Indonesia belum terbiasa dengan aturan safety tersebut. Namun disini,  kemarahan seorang peneliti senior sempat terdengar dan terlihat tatkala melihat seorang kolega saya yang melepas kacamata safety tersebut saat kerja di lab hingga kata “damn!!” terpekikan.

 

Kasus lain yang saya alami sebagai contoh kedisiplinan dalam kerja lab di Jerman adalah saat seorang teknisi lab melaporkan adanya liquid/cairan pada pada tempat sampah kimia khusus padatan pada milis email anggota lab. Peringatan keras lainnya pun datang pula dari professor saya dengan nada ancaman mengenai sebuah eksperimen yang dilakukan overnight tanpa adanya formulir administrasi yang diisi.

Dari beberapa kejadian yang saya alami tersebut, saya belajar arti kuat mental demi profesionalisme. Alhamdulillah saya belum dan semoga tidak akan termasuk yang melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal dalam kegiatan riset di laboratorium. Adanya kesalahan orang lain cukup untuk saya jadikan catatan dan pelajaran bagi saya kedepannya. Softskill profesionalisme benar-benar saya pelajari disini di hari-hari awal saya melakukan riset di Jerman ini.

 

Semoga apa yang saya pelajari di sini, bisa saya implementasikan dengan baik saat pulang membangun tanah air. Aamiin.

 

Catatan 3 Desember 2016.

Yudha P. Budiman