Nasi Padang (Menanam Inspirasi Pada Generasi Mendatang) yang digagas oleh Forum Mahasiswa Awardee LPDP Jerman, tidak hanya memiliki program berkirim inspirasi lewat kartu pos (http://matagaruda.org/2018/06/28/nasi-padang-dalam-inspirasi-kita-berbagi-shitlpdpawardeessay/). Nasi Padang juga berkomitmen untuk mendukung pendidikan adik-adik pelajar Indonesia secara finansial lewat salah satu program lainnya yaitu beasiswa 3 Euro-an.

Tiga euro itu seharga sekotak mie siap saji yang bisa ditemukan di banyak stasiun kereta di berbagai sudut kota di Jerman. Tiga euro itu bisa jadi seharga sepasang kaos kaki. Tiga euro, bila dirupiahkan, akan menjelma menjadi selembar uang kertas lima puluh ribuan. Itulah jumlah yang dinilai pantas tanpa memberatkan donatur, yang juga berstatus mahasiswa, setiap bulannya. Perjalanan 3 euro menyeberangi benua bukan sekadar tentang sejumlah uang yang terkirim antar rekening bank. Ada proses yang cukup panjang sebelum sampai ke tahap nominal itu sendiri.

3 Euro, Mengapa dan Siapa?

Dimulai dari tahap penentuan adik-adik yang berhak menerima beasiswa. Tentu tidak mudah karena pada dasarnya penyelenggara beasiswa 3 Euro-an ini sedang tidak berada di tanah air. Diambillah langkah strategis yaitu dengan menjalin kerjasama dengan komunitas penyalur beasiswa di beberapa kota di Indonesia. Sepanjang satu tahun periode beasiswa 3 Euro-an yang pertama, Nasi Padang bekerja sama dengan tiga komunitas di tiga kota; Yogyakarta Coin A Chance!, Medan Coin A Chance!, dan komunitas Pro Yatim Jakarta. Ketiga komunitas tersebut telah berpengalaman mengelola dan menyalurkan dana bantuan pendidikan bagi adik-adik asuhnya. Komunitas-komunitas inilah yang di awal periode melakukan penyaringan dan seleksi terhadap kandidat penerima beasiswa. Kriteria seleksi meliputi status sosial ekonomi dan performa sekolah kandidat yang bersangkutan. Hasil penyaringan tersebut kemudian direkomendasikan kepada tim Nasi Padang.

Tim Nasi Padang berkeinginan agar kakak-kakak donatur juga terlibat dalam proses seleksi penerima beasiswa karena bagaimanapun, mereka memiliki hak untuk mengetahui kepada siapa dan bagaimana dana pendidikan tersebut diberikan. Maka, diskusi pun dilakukan di forum internal Formal Jerman dalam rangka memutuskan siapa yang sekiranya paling membutuhkan.

Setelah kandidat penerima disepakati, terdiri atas adik-adik pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA,  pengumpulan dana dilakukan melalui bendahara Formal Jerman sebelum nantinya disalurkan kepada masing-masing komunitas.  Pemanfaatan dana beasiswa diserahkan sepenuhnya kepada penanggungjawab dari komunitas masing-masing, dengan catatan, penggunaan dana harus berkaitan dengan proses pendidikan adik-adik (berupa pembayaran uang sekolah, pembelian buku, seragam sekolah, atau alat penunjang belajar lainnya). Penanggung jawab juga berkewajiban untuk melaporkan penggunaan dana dengan melampirkan bukti pembayaran disertai dengan perkembangan dan performa belajar adik-adik penerima beasiswa.

Bukan Nasi Padang namanya jika tidak ada unsur inspirasinya. Adik-adik penerima beasiswa 3 Euro-an juga diatur sebagai penerima kartu pos inspirasi. Harapannya adalah agar mereka semakin semangat menimba ilmu sekaligus agar maklum bahwa ada banyak kakak yang menaruh perhatian atas pendidikan mereka.

Beasiswa untuk Beasiswa

Beasiswa untuk beasiswa, demikian lebih fasih disebutnya. Beasiswa 3 Euro-an dimaksudkan sebagai wadah untuk menyisihkan uang, yang sesuai namanya, sejumlah tiga euro per bulan. Dana tersebut disisihkan dari biaya hidup bulanan (living allowance) penerima beasiswa LPDP yang tengah menempuh pendidikan di Jerman. Hingga bulan Juli 2018, Nasi Padang telah menyalurkan beasiswa kepada 6 adik asuh dengan total sekitar 30 juta rupiah. Di akhir program, total beasiswa yang akan diberikan adalah sekitar 40 juta rupiah. Memang, hal baik yang dilakukan bersama-sama akan memiliki hasil dan dampak yang lebih masif.

Keikutsertaan donatur dalam program ini adalah bersifat sukarela. Pun demikian, Tim Nasi Padang berusaha mempersuasi calon donatur dengan melihat manfaat positif yang bisa diperoleh melalui program ini. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai bentuk kontribusi kolektif dari penerima beasiswa LPDP di Jerman, sebagai salah satu opsi bagi setiap anggota Formal yang ingin memberikan sumbangsihnya selama menempuh pendidikan di luar negeri, dan tentunya bagi adik-adik penerima, beasiswa 3 Euro-an berarti kesempatan untuk menempuh pendidikan dengan lebih layak.

Salah satu adik penerima beasiswa menulis balasan kartu pos
Kegiatan pendampingan salah satu penerima beasiswa 3 Euro-an oleh pengelola beasiswa Coin A Chance! Yogyakarta

Monitoring, Evaluasi, dan Tantangan

Kurang lebih satu tahun periode beasiswa 3 Euro-an yang pertama, tak kurang dari 30 juta rupiah dana yang tersalurkan. Tim Nasi padang berusaha mengedepankan transparansi bagi semua pihak yang terlibat dalam program ini. Dari pihak komunitas, sebagaimana disebutkan sebelumnya, berkewajiban untuk melaporkan penggunaan dana beasiswa serta perkembangan akademik dan non akademik adik penerima. Pelaporan tersebut dilakukan setiap tiga bulan sekali. Didasarkan pada laporan oleh penanggungjawab dari komunitas, Tim Nasi Padang menyusun newsletter untuk kemudian dijadikan pertanggungjawaban berkala kepada para donatur.

Kegiatan pendampingan aktivitas belajar salah satu penerima beasiswa oleh kakak pengelola CAC Medan

Ada kalanya beberapa kendala ditemui dalam berjalannya program ini. Misalnya, keterlambatan pelaporan dari penanggungjawab komunitas sehingga menghambat proses menyaluran dana. Dalam kasus yang demikian, secara obyektif dan transparan, Tim Nasi Padang memberlakukan sanksi, mulai dari peringatan tertulis hingga pemotongan dana beasiswa tersalurkan lewat komunitas bersangkutan.

Dokumentasi penyerahan dana pendidikan kepada salah satu kepala sekolah

Pada kesempatan yang lain, kendala juga datang dari adik penerima sendiri yang berupa hambatan atau kurangnya motivasi belajar hingga konflik dengan pihak penyelenggara pendidikan. Untuk itu, Tim Nasi Padang berusaha untuk membantu mencarikan solusi dan menengahi agar masalah dapat diatasi.

Ke depannya, kami berharap agar skema beasiswa ini dapat berkelanjutan dan berkembang dengan skala yang lebih luas lagi.

 

Penulis:

Made Ayu Dwi Pradnyawati

Awardee LPDP Program Master

Program Studi International Health di Charite Universitatmedizine Berlin

 

Email Nasi Padang: mynasipadang@gmail.com

Facebook: Nasipadang Lpdp Jerman

Instagram: @nasipadang.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *