Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang mematikan dan memiliki jumlah prevalensi kejadian yang cukup tinggi di Indonesia. Data pada tahun 2012 menunjukkan bahwa terdapat 20.928 kasus baru, dengan rasio 17:100.000 wanita terdiagnosa kanker serviks setiap tahunnya (HPV Information Center, 2015). Penyebabnya diketahui merupakan virus berjenis Human Papilloma Virus (HPV), terutama jenis HPV 16 dan HPV 18. Apabila kanker terdeteksi pada stadium awal, ketika ukuran lesi masih kecil dan belum ada penyebaran, penanganan utama dilakukan dengan operasi ditambah dengan radiasi. Pada tahap ini, harapan untuk sembuh mencapai 100%. Pada stadium lanjut, angka harapan hidup semakin menurun sehingga penanganan biasanya ditujukan sebagai langkah paliatif, yaitu memperpanjang usia dan mengurangi rasa sakit bagi pasien. Pada tahap ini, kemoterapi dan radioterapi adalah 2 jenis yang paling banyak dipakai mengingat sel-sel kanker yang telah menyebar secara invasif baik di lokasi utama maupun di bagian lain di seluruh tubuh.

Sebagai mahasiswa yang fokus mengambil spesialisasi radioterapi, tentunya saya tidak mau dong membuat treatment plan untuk diri sendiri. Paling tidak, saya berusaha untuk mencegah dengan cara menjalani hidup sehat, menghindari penyebab penularan virus HPV dan melakukan vaksinasi HPV. Vaksinasi HPV ini penting dilakukan karena dapat mencegah sekitar 70% jenis virus penyebab kanker serviks, termasuk virus HPV tipe 16 dan 18, yang merupakan virus yang dominan sebagai penyebab kanker serviks. Kabar baiknya, provider asuransi saya, TK (Techniker Krankenkasse) memfasilitasi vaksinasi ini. Biaya ditanggung sepenuhnya untuk 3 kali vaksinasi, dimana biaya untuk setiap kali vaksinasi masing-masing sekitar 180 euro (163 euro untuk vaksin dan jasa dokter, serta 17 euro untuk biaya penyuntikan), atau 540 euro untuk keseluruhan rangkaian vaksinasi.

Bagi gadis remaja hingga usia 17 tahun, biaya vaksinasi memang ditanggung oleh setiap provider asuransi, namun bagi wanita berusia di atas 17 tahun hingga 27 tahun, sampai saat ini, hanya TK satu-satunya provider asuransi di Jerman yang menanggung biaya vaksinasi HPV. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa vaksinasi sebaiknya dilakukan ketika seseorang belum aktif melakukan hubungan seksual, yaitu sebelum berusia 17 tahun. Namun beruntung sekali, dengan ketentuan TK ini, saya dapat menikmati fasilitas ini, gratis, tapi kita perlu membayar sendiri lebih dulu, nanti baru minta reimburse ke perusahaan asuransi.

Saya melakukan suntik vaksinasi di tempat praktek gynecologist, Dr.med. Daniel Mueller di Mannheim. Seperti biasa kita harus membuat janji terlebih dahulu. Pada saat bertemu dengan dokter, beliau menjelaskan pentingnya vaksin ini dan potensi efek samping yang mungkin dialami setelah suntik, seperti sakit pada bagian lengan, demam, atau bahkan alergi. Saya sendiri tidak mengalami satupun dari keluhan tersebut. Beliau juga mengingatkan bahwa walaupun sudah melakukan vaksinasi, jangan lupa melakukan pap smear, mengingat tidak semua jenis virus penyebab kanker serviks tercakup oleh vaksin yang disuntikkan. Tapi pap smear hanya untuk wanita yang sudah menikah lho ya, dengan kata lain, sudah aktif secara seksual. Pap smear dilakukan secara berkala setiap 1 tahun sekali. Setelah konsultasi dengan dokter, selanjutnya menebus vaksin di apotek, dan kemudian perawatlah memberikan suntikan tersebut. Vaksinasi yang kedua akan dilakukan 4-8 minggu ke depan dan yang ketiga akan dilakukan 6 bulan ke depan.

Proses reimbursement ke pihak asuransi pun tidak rumit, cukup kirimkan bukti pembayaran dari apotek dan klinik via email, sertakan nomor rekening, tunggu konfirmasi dari mereka. Nantinya kita akan dikirimi formulir untuk dikirimkan kembali via pos beserta dengan bukti-bukti pembayaran. Selesai, tinggal tunggu uangnya cair.

Bagi para wanita pemegang kartu asuransi TK, ayo manfaatkan fasilitas ini.

Oya, FYI, jika ingin daftar asuransi TK, ada program khusus juga dimana setiap orang yang merekrut member baru untuk TK, bisa dapat bonus, lupa nominalnya berapa, tapi lumayan kan buat jajan berdua  😀

-Sita Gandes Pinasti, Heidelberg University-