formalbercerita #3

Kembali lagi di Formal Bercerita!

Setelah minggu lalu ada teteh Vira Agustina yang membagikan pengalamannya menjadi PhD mom di Jerman, pada edisi ketiga ini ada mas Abdul Mu’ti Sazali yang baru saja menyelesaikan pendidikan MBA in Aviation Management di Frankfurt University of Applied Science. Mari kita simak penuturan mas Muti tentang bagaimana kehidupan sebagai mahasiswa di Frankfurt!

Frankfurt am Main (Frankfurt) merupakan kota terbesar di Negara bagian Hessen.  Frankfurt memiliki peranan yang sangat penting sebagai pusat ekonomi, keuangan dan perbankan Jerman dan Uni Eropa. Selain terdapat European Central Bank, Frankfurt juga memiliki salah satu bandar udara terbesar dan tersibuk di dunia, yaitu Frankfurt International Airport (FRA). Oleh karena itu, Frankfurt dikenal sebagai salah satu destinasi kota bisnis dan transit di Eropa. Tidak heran apabila biaya hidup di Frankfurt terbilang lebih mahal dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Jerman. Walaupun demikian, Frankfurt juga bisa dijadikan sebagai salah satu tujuan kuliah, terutama bagi mereka yang tertarik di bidang ekonomi, perbankan dan manajemen penerbangan.

Saya merupakan salah seorang mahasiswa MBA in Aviation Management di Frankfurt University of Applied Sciences. Untuk bisa diterima di program studi ini, selain harus memenuhi persyaratan akademik, calon mahasiswa juga harus memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun di industri penerbangan. Selain sebagai syarat dari universitas, hal ini juga ditujukan untuk kelancaran studi mahasiswa tersebut karena sistem kuliahnya yang lebih berorientasi kepada business practice. Saya memulai kuliah di Winter Semester 2015, ada 10 mahasiswa dari 10 negara yang berbeda. Latar belakang profesi dan jenjang karir mahasiswanya pun berbeda-beda; ada yang berprofesi sebagai pilot, managing director, senior cabin crew, trainer, customer service, dan profesi lainnya.

How’s life in Frankfurt?

Sebagai salah satu pusat bisnis perbankan di Eropa, Frankfurt merupakan kota yang sangat international. Bagi seorang pendatang yang sebelumnya sama sekali tidak bisa berbahasa Jerman, saya tidak menemukan kendala yang cukup besar dari keterbatasan tersebut. Secara ekonomis dan geografis, Frankfurt juga bisa diakses dengan sangat mudah dari berbagai kota dan negara yang didukung oleh airport dan stasiun kereta dengan koneksi terbanyak di Jerman. Sebagai mahasiswa, banyak kesempatan untuk belajar lebih banyak di luar program kuliah, contohnya dengan mengikuti internship program yang banyak ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan yang ada di kota ini, terutama bagi kita yang mengambil program studi bisnis, keuangan atau penerbangan.

Ukuran kota Frankfurt yang tidak begitu besar dengan jumlah penduduk sekitar 600 ribu jiwa, kota ini ibarat ‘one-stop service’ dimana kita bisa melakukan banyak hal tanpa harus pergi jauh, semua points of interest bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Mau senang-senang setelah lelah seminggu penuh sekolah? Ada banyak event dan tempat hiburan seperti museum, festival, bar, dan bioskop yang tidak men-dubbing bahasa aslinya dengan bahasa Jerman (ini penting banget!). Mau lapor diri dan ikut acara-acara ke-Indonesiaan? Ada KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Frankfurt. Hobi belanja? Kita bisa datang ke Flea Market tiap akhir pekan untuk berburu barang-barang murah atau ke Goethestrasse untuk berburu Chanel, Louis Vuitton, atau Versace (hanya kalau berani!). Mau ibadah dan buka puasa Ramadhan gratis tiap hari? Ada Masjid Indonesia Frankfurt. Kangen makanan Indonesia tapi malas masak? Ada Restoran Indonesia.

How to live our live in Frankfurt?

Tinggal dan sekolah di kota yang sangat International seperti di Frankfurt tentunya harus bisa dijadikan sebagai plus points seperti menambah pengalaman di luar kuliah dan broadening networks. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup di Frankfurt menjadi ‘lebih hidup’.

  1. Bergabung dengan komunitas expatriate melalu ‘Internation’. Karena di Frankfurt banyak sekali expatriate, maka ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk kita dalam memperluas network. Kita bisa bergabung dengan komunitas ini dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang sering mereka adakan, dari mulai kegiatan santai seperti nonton bareng atau barbeque party sampai ke acara professional networking events. Untuk bergabung di komuitas Internation, bisa klik https://www.internations.org.
  2. Mau explore museums di Frankfurt secara gratis? Bisa ikut program ‘Satourday’ yang diadakan setiap hari Sabtu terakhir di setiap bulannya. Kita bisa berkunjung ke beberapa museum di Frankfurt dan juga mengikuti berbagai kegiatan workshop tanpa harus bayar. Cek informasinya di http://www.kultur-frankfurt.de/portal/en/Museums/TheSatourday-FamilyProgramme.
  3. Biar gak ‘kudet’ dengan acara-acara yang diadakan oleh KJRI dan komunitas warga Indonesia di Frankfurt, bisa bergabung dengan grup facebook Permif di https://www.facebook.com/groups/Permif/.
  4. Belajar sambil menambah penghasilan? Why not? Menurut saya, bekerja sebagai seorang research assistant (HiWi) di kampus adalah pilihan yang sangat tepat. Selain bisa belajar lebih banyak, kita juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Sebagai pemegang student visa, kita bisa bekerja maksimal 80 jam per-bulan. Rata-rata gaji per-jam seorang Hi-Wi adalah EUR 11 – EUR 13. Lumayan kan? Tapi ingat… jangan sampai mengganggu kuliah. Earn EUR 800 (or more) tapi tetap di akhir semester dapat IP 1.0 ya…

Nah, begitulah kira-kira gambaran tinggal dan sekolah di Frankfurt. Semua informasi yang saya tulis disini hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya selama tinggal di Frankfurt.

Jika ingin bertanya lebih jauh tentang bagaimana tips survive hidup di Frankfurt, bisa menghubungi mas Muti di:

Facebook: Sazali Mu’ti

Instagram: @sazali_muti