formalbercerita #1

 

Di edisi keenam Formal Bercerita kali ini, ada teman kita Raisatun Nisa Sugiyanto yang akan berbagi pengalamannya belajar dan meneliti tentang kanker di Jerman. Raisa baru saja meraih gelar Master of Science in Molecular Biosciences dari Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg. Seperti apa rasanya berkuliah di kampus tertua di Jerman tersebut? Berikut kisahnya.

 

Kesan:

Mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di Universität Heidelberg merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya. Tidak hanya karena universitas ini merupakan yang tertua di Jerman, namun juga karena termasuk dalam jajaran universitas terbaik dalam bidang kedokteran dan bioscience.

Alhamdulillah di bulan November 2017 saya telah menyelesaikan studi saya di bidang Molecular Biosciences dengan Major Cancer Biology. Program ini memberikan banyak peluang belajar dari para ahli riset kanker yang datang tidak hanya dari Jerman, namun juga seluruh dunia. Program master yang saya ambil dilaksanakan di bawah institut riset bernama Deutsches Krebsforschungszentrum (DKFZ), yang berarti Pusat Riset Kanker Jerman. Institut ini merupakan yang terbesar yang mengkhususkan agenda risetnya untuk penelitian mengenai kanker.

Kanker masih merupakan penyakit yang menjadi momok bagi penduduk dunia. Kanker bukanlah penyakit baru, namun hingga kini pengobatan kanker yang paling efektif dan ampuh masih diburu para saintis seluruh dunia. The emperor of all maladies, begitulah julukan untuk penyakit ini. Tak heran memang negara maju seperti Jerman, mengalokasikan budget risetnya dalam jumlah yang besar untuk penelitian tentang kanker.

Dulu, ketika saya masih belajar di jenjang bachelor, saya belajar kanker lebih banyak melalui pendekatan Farmakologi. Misalnya untuk mengeksplorasi tumbuhan dari Indonesia untuk menemukan zat aktif yang potensial sebagai antikanker. Belajar dua tahun di DKFZ membuka mata dan pemikiran saya bahwa ada banyak sekali hal yang dulu saya belum ketahui tentang kanker itu sendiri. Bahwa ada banyak hal menarik dan mendasar yang seharusnya dipelajari dan dipahami sebelum “berperang” melawan kanker. Di DKFZ, berbagai riset grup untuk mempelajari kanker ada disini. Mulai dari pendekatan cell biology, genomic, immunology, radiology, dan translational cancer research bisa dipelajari disini. Saat ini saya masih tertarik untuk terus belajar memahami mekanisme perkembangan penyakit kanker dan terapinya, khususnya dengan pendekatan genomic dan molekuler.

 

Pesan:

Saya yakin bahwa kualitas peneliti dari Indonesia, khususnya yang mempelajari kanker, tidak kalah dengan para peneliti dari Jerman atau dari berbagai negara maju lainnya. Etos kerja keras, kesungguhan, dan keinginan untuk belajarnya tidaklah berbeda. Para peneliti di Jerman juga bisa dibilang cukup santai dan toleran terhadap kehidupan pribadi masing-masing. Tidak ada pressure untuk over-work atau kerja over the weekend. Cukuplah tiap pribadi bertanggung jawab pada tugas dan kewajiban masing-masing.

Yang masih perlu dipelajari adalah bagaimana bisa bekerja seefektif mungkin dan membangun sebuah sistem yang lengkap dan bersinergi satu sama lain. Saya sangat terkesan dengan lengkap dan rapinya sistem yang negara Jerman telah bangun untuk riset kanker. Segala aspek yang mendukung lancarnya penelitian diperhatikan disini. Mulai dari sistem pemesanan alat dan bahan penelitian, teknologi terkini yang tersedia di tiap laboratorium, hingga sarana pengolahan limbah sehingga tetap ramah bagi lingkungan.

Selain itu, sistem kerja dalam konsorsium riset juga banyak dikembangkan di Jerman. Untuk mencapai tujuan riset tertentu, beberapa riset grup yang ada di DKFZ maupun dari lembaga eksternal bergabung. Topik riset yang lebih besar dampaknya bagi perkembangan keilmuan dapat diteliti bersama. Dengan sistem yang rapi inilah negara ini bisa menjadi salah satu leader dalam riset kanker dan berbagai penelitian lainnya. Kesuksesan dalam mengembangkan riset sebuah negara tidak hanya tergantung pada cemerlangnya keilmuan yang dimiliki para saintisnya, namun juga melalui sinergi team work yang ada.

Hal-hal semacam ini tentunya dapat dipelajari untuk diterapkan di Indonesia, sehingga Indonesia dapat menyamakan langkahnya dengan negara-negara maju lainnya. Terutama untuk berkontribusi dalam riset untuk memerangi kanker.

 

Ingin bertanya lebih jauh tentang studi kanker di Jerman? Raisa bisa dihubungi di:

Facebook: Raisatun Nisa

Instagram: @raisatunnisa