Namaku Karlina, di tahun 2016 ini, aku sedang menjalani tahun pertama S3 di Quantitative Linguistics Department, Eberhard Karls Universität Tübingen. It has been a long story ketika aku mulai menggapai mimpi buat lanjut sekolah yang dimulai dari taun 2012 sampe akhirnya aku bisa mewujudkannya di tahun 2016. Tapi tenang aja, aku ngga akan cerita seluruh perjalananku sepanjang 4 tahun ikhtiar karena selain akan memakan halaman page ini, itu juga akan memakan waktu lebih banyak –bagi yang baca dan bagi yang nulis-.

universitaet-tuebingen-377688

Eberhard Karls Universität Tübingen (source: http://luxus.welt.de/sites/default/files/styles/giant-teaser/public/img/universitaet-tuebingen-377688.jpg?)

 

Aku akan cerita kala periode waktu Agustus sampe Oktober 2015 aja. Dari pengalamanku selama 3 bulan nyari supervisor, berikut tips yang bisa aku share. Aku sempat ditolak oleh lebih dari 50 calon supervisor, lebih dari 30 universitas, dan di PHP oleh sekitar 10 universitas di tahun 2015 itu (di tahun-tahun sebelumnya mah lebih jatuh bangun cari beasiswa plus supervisor.. wkwkwk). Kerjaanku sehari-hari cuma begini:

  1. buka website universitas
  2. cari program linguistics
  3. klik bagian staff dan lecturers
  4. cari yang interest nya sama dengan aku
  5. imel personal ke calon supervisor
  6. menunggu balasan
  7. ulang nomor 1-6 untuk universitas yang lain
  8. minta doa orang tua
  9. minta doa keluarga dan kerabat
  10. makin rajin sholat makin rajin ngaji makin banyak sedekah makin banyak dzikir

 

528eba6294179_528eba6295506

(source: http://www.pulsk.com/images/2013/11/22/528eba6294179_528eba6295506.jpg)

 

Langkah pertama adalah ’nyepik’ calon supervisor:

  • Pastikan proposal yang kamu punya udah fiks jadi dan juga sudah dikonsultasikan dengan supervisor yang di dalam negeri sebelum dikirim ke calon supervisor. Standart proposal PhD luar negeri cukup ngeri karena mereka suka proposal yang to the point, aplikatif, dan membawa dampak yang signifikan bagi ilmu yang diterapkan.
  • Propose ONLY ONE supervisor di setiap universitas karena aku pernah asal sebar aja dan ternyata ada yang membatalkan persetujuannya untuk jadi supervisor karena beliau tahu bahwa aku juga sebar proposal ke koleganya. *nyengir*. ini pelajaran berharga bok. Karna diduakan itu ngga enak rasanya yekannn #Iknowitshard #Iknow
  • Kontak juga ke chairman-nya untuk memberitahu bahwa kita sudah mengontak Mr. atau Mrs. X utk menanyakan kesediaannya menjadi calon supervisor kita. Step ini berguna untuk ‘ketok pintu’ dan aku pernah dapet balasan bahwa chairman akan ikut membantu menanyakan kepada Mr or Mrs X mengenai progress of my proposal.
  • Be precise dalam subject dan body email. Waktu itu subject ku “Request for Willingness to Supervise”. Dalam body email, jelaskan mengapa kita memilih beliau sebagai calon supervisor kita secara personal dan bukan template body email yang tinggal diganti “dear Mr. X” nya! Pelajari jurnal-jurnalnya. Tulis 1 paragraf deskriptif alasan memilih beliau sbg orang yang tepat untuk mendampingimu #cieileh #janganbaperplis
  • Lampirkan CV dan proposal penelitian sejak awal berkorespondensi dengan calon supervisor. Anyway, dalam poin ini, ada juga yang menyarankan untuk ngga kasih proposal sama CV di awal karena emailnya akan jadi kepanjangan dan ngga to the point. However, attaching them was what I did and still got some positive responses.
  • Waktu yang bagus untuk kirim email adalah antara jam 14.00 – 17.00 WIB karena itu pas working hours di belahan dunia lain sebelah sana. Nantinya tanggapan akan mulai berdatangan sektar jam 19.00 – 23.00 WIB. Jadi, ada waktu jeda untuk nafas sekitar jam 17.00 – 19.00. Pagi sampai tengah hari biasanya aku gunakan untuk manthengin web univ, interest calon supervisor, dan bikin draft konten email. #dantetep #mintadoa #takkenalwaktu #namanyajugaikhtiardandoa #semaksimalmungkin
23email

(source: http://im.rediff.com/money/2016/aug/23email.jpg)

 

Langkah kedua adalah menanggapi balasan. Balasan bisa dalam beberapa bentuk:

  • Penolakan

Kalau ditolak, aku akan balas dengan mengucapkan terima kasih atas willingness nya untuk membalas imel dan kemudian menanyakan alasan penolakan. Bisa aja ditolak karena kuota beliau udah penuh atau sistem tidak memungkinkan mengambil mahasiswa yang punya topik research sendiri. Bisa juga ditolak karena proposal kita kurang bagus. Kalau alasan penolakannya adalah ini, aku akan lanjut tanya di bagian mana kurang bagusnya utk kemudian bisa aku perbaiki; tapi aku ngga akan propose ke beliau lagi setelah proposal udah direvisi.. kan udah ditolak.. #akurapopo #akucepetmuvon

  • Permohonan revisi proposal

Kalau balasannya adalah beliau minta proposalnya diperbaiki, aku langsung say YES, I WILL. Kemudian aku akan bertanya di part mana, jurnal apalagi yang harus aku baca sebagai tambahan referensi, dll yang bisa membuat revisi menjadi lebih baik. Jangan lupa tanyakan deadline revisi kapan. Tepati deadline itu karena permohonan revisi adalah harapan.

  • Permintaan untuk daftar ke universitas secara formal

Surely, aku akan langsung menanggapi ini juga dengan tanggapan yang positif sebab hal ini berarti memang sistem yang dibuat tidak mengijinkan supervisor untuk memilih mahasiswanya melainkan proposal kita akan dikaji dulu sama dewan akademik untuk kemudian ditolak atau dipilihin calon supervisor yang tepat. Kalau responnya begini, aku akan memohon kesediaan beliau untuk namanya bisa aku cantumkan sebagai proposed supervisor di form pendaftaran. Then, go to the online application

  • Bersedia jadi supervisor tapi harus daftar online dulu supaya proposal bisa dikaji lebih lajut

Di part ini, harapannya masih 50-50 karena berarti proposal kita masih akan dikaji oleh dewan akademik dan kalo lolos maka beliau menjadi supervisor kita. Namun, kalo ngga lolos ya I am sorry good bye. Aku pernah mengalami yang seperti ini. Calon supervisornya sudah sangat antusias tetapi ternyata proposal aku ditolak. #akurapopo #akucepetmoveon #tetotttt #hashtagberulang

  • Ternyata beliau udah pensiun. Oh, my, God. #lanjutikhtiar #lanjutmintadoa

 

1-sO19Pro5BZhxx5D_T2KoFg

(source: https://cdn-images-1.medium.com/max/800/1*sO19Pro5BZhxx5D_T2KoFg.png)

 

Langkah ketiga kalau sudah oke dari calon supervisor dan juga sudah oke dari supervisor dan atau board of academic maka langsung masuk ke proses LoA.

  • Di kasusku, supervisorku yang mencarikan second supervisor karena sistemnya di departmentku itu supervisor harus dua. Iya, aku menduakan supervisorku. Uwuwuwuuw~~~
  • Supervisor akan mengeluarkan LoI (Letter of Invitation)
  • Pihak kampus akan mengeluarkan LoA (Letter of Acceptance)

Alhamdulillah setelah 2 bulan berkutat dengan harapan yang timbul tenggelam karena berbagai proses dan tanggapan yang ada di dalamnya, akhirnya semua berbuah manis… well, persistence is paid off .. Semoga tulisan ini bermanfaat yaa… Sukses buat para LoA hunters, berusaha dan berdoa maksimal adalah tugas kita. Selebihnya, pasti Allah punya the best life grand design

-Karlina Denistia, S3 di Quantitative Linguistics Department, Eberhard Karls Universität Tübingen-