Kisah Novian Habibie harumkan Indonesia di ajang Audi Autonomous Driving Cup 2018

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir telah banyak mendorong berbagai peneliti untuk mengembangkan berbagai macam aplikasi termasuk di bidang otomotif. AUDI sebagai salah satu pabrikan otomotif di Jerman tiap tahun mendorong para innovator untuk menampilkan temuannya dalam ajang Audi Autonomous Driving Cup. Uniknya, di tahun 2018 lalu terdapat sosok mahasiswa LPDP yang berhasil menyabet juara dalam kompetisi tersebut. Novian Habibie, mahasiswa jurusan Computer Science dari University of Freiburg menjadi sorotan bersama tim nya yang berhasil menggabungkan bidang Artificial Intelligence, Machine and Reinforcement Learning, Computer Vision, Mobile Robotics and Optimal Control. Bersama tim nya Novian meraih juara kedua di ajang tersebut menyisihkan tim-tim lain dari berbagai Negara. Novian yang sebelumnya menyelesaikan S1 di bidang Ilmu Komputer juga menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang bertarung di ajang tersebut. Saat ini Novian tengah mengembangkan hasil risetnya sebagai tesisnya. Ingin kenal lebih dekat dengan sosok ramah yang satu ini, simak wawancara berikut:

Siapa nama lengkap kamu, asal, dari PK berapa?
Nama saya Novian Habibie, sehari-hari biasa dipanggil Novian. Asal saya dari Jakarta (numpang lahir dan besar di Jakarta, orang tua dari Jawa), dan sebelum berangkat kuliah di Jerman saya tinggal di Depok bersama orangtua. Dulu saya mengambil studi S1 di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Jurusan Ilmu Komputer. Selanjutnya memperoleh beasiswa LPDP dan bergabung di PK-84.

Apa yang memotivasimu untuk mengikuti ajang AUDI Autonomous Driving Cup 2018?

Semua bermula saat kuliah S1 dulu. Sejak saya berkuliah S1 saya tertarik dengan dunia otomasi dan robotika, dan pernah mengikuti beberapa kompetisi robotika bersama Tim Robotika Universitas Indonesia (TRUI). Saya senang ikut lomba-lomba seperti itu, sampai hampir sebagian besar kegiatan ekstrakulikuler saya habiskan di TRUI.

Pindah ke kondisi saat ini, kebetulan saat itu salah satu lab di Uni Freiburg, Automation Intelligence System (AIS) Laboratory, sedang membuka pendaftaran untuk tim delegasi kampus di kompetisi Audi Autonomous Driving Cup (AADC) 2018. Selain karena saya suka dunia otomasi (seperti yang diceritakan di atas), saya juga penasaran bagaimana rasanya ikut lomba di benua Eropa. Akhirnya pun saya coba daftar dan Alhamdulillah diterima jadi 1 dari 5 anggota tim delegasi kampus.

Selain itu, saya ikut lomba ini juga karena bisa dihitung sebagai kelas dan masuk ke nilai. Di program saya ada mata kuliah yang namanya Master Project, dimana mahasiswa master mengerjakan proyek tertentu di bawah lab atau perusahaan selama 1 semester. Karena kami ikut lomba ini membawa nama lab dan kampus dan juga ada banyak implementasi pelajaran dari kuliah, maka lomba ini dihitung sebagai proyek di bawah lab AIS. Ini sangat menarik untuk saya karena saya tidak perlu lagi repot cari-cari proyek sendiri, dan juga bisa mengerjakannya bersamasama sebagai tim.

Siapa saja yang tergabung dalam tim ini? Dan bagaimana peran kamu dalam tim ini?
Ada 5 orang mahasiswa S2 yang tergabung di dalam tim frAISer, 2 dari program Embedded System, 3 dari Computer Science. Selain itu, ada 2 PhD Student dari lab AIS sebagai mentor tim. Untuk komposisi negara, 3 orang anggota tim berasal dari Jerman, 1 India, dan saya dari Indonesia. Lebih jauh mengenai tim kami dapat dilihat di https://www.audi-autonomous-driving-cup.com/team-fraisers/

Karena sistem autonomous driving itu cukup kompleks, maka tim dibagi berdasarkan task-task spesifik. Saya mendapatkan peran untuk sistem perception/penginderaan. Spesifiknya, beberapa hal yang saya kerjakan adalah 1) pembuatan dataset (gambar) secara semi-otomatis menggunakan Motion Capture Camera, dimana dataset digunakan untuk melatih Deep Neural Network agar dapat mendeteksi jalan dan menentukan arah mobil, 2)Menggabungkan pembacaan sensor LIDAR dan kamera untuk mendeteksi mobil dan manusia (dalam kompetisi ini direpresentasikan dalam bentuk boneka Barbie).

Apa saja kesulitan dalam mengembangkan sistem ini, dan bagaimana tim bekerja dalam menyelesaikan tantangan ini?
Sistem autonomous driving yang baik adalah sistem yang bisa menggeneralisir kondisi lingkungan dan dapat berjalan dengan baik di kondisi apapun (robust). Sementara, untuk membuat sistem yang generalized dan robust, dibutuhkan metode yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan sistem yang hanya bekerja pada kondisi tertentu. Banyak hal baru yang perlu dipelajari, dan dengan adanya mentor dari PhD Student yang mengarahkan dan memberi masukan sangat membantu progress tim. Selain support berupa bantuan teknis, tim kami juga mendapat support fasilitas dari lab AIS untuk pengembangan dan eksperimen.

Selain itu, time management juga menjadi tantangan. Waktu dari kick-off hingga babak penyisihan hanya sekitar 4 bulan, dan ada banyak hal yang perlu dikerjakan parallel dengan mengerjakan lomba seperti kelas dan persiapan ujian. Untuk mengganti waktu pengembangan sistem yang tidak terlalu banyak saat periode kuliah, maka kami ber-5 menggunakan sebagian besar waktu liburan musim panas tahun lalu di lab untuk persiapan lomba. Alhamdulillah tim kami lolos ke babak final, sehingga setelah penyisihan selesai kami masih harus mempersiapkan final dalam waktu 1 bulan, dan lagi-lagi time management menjadi tantangan karena semester baru sudah dimulai. Alhamdulillah semua bisa diatur dengan baik, hingga akhirnya pada Babak Final tim kami mendapatkan juara ke-2.

Bagaimana respon orangtua saat mengetahui kamu berhasil dalam kompetisi ini?
Tentunya senang sekali! Sejak dulu orang tua memang sudah tahu saya suka ikut lomba-lomba sejenis ini, dan mendukung untuk ikut. Terutama Bapak saya, karena beliau selalu bilang kepada saya untuk aktif dan belajar banyak saat di luar negeri. Selain itu, karena saya tidak bisa pulang ke Indonesia saat liburan musim panas karena menyiapkan lomba akhirnya terbayar dengan prestasi dan lumayan juga bisa kirim uang tambahan ke rumah juga dari hasil lomba.

Apa rencana kamu kedepan? Apakah berencana mengembangkan sistem autonomous driving ini di tanah air?
Saat ini saya akan masuk ke semester 4, dan sedang mempersiapkan diri untuk tesis. Karena sudah punya pengalaman di bidang autonomous driving dan punya koneksi ke lab, saya berencana meneruskan yang sudah saya mulai sebagai tesis. Spesifiknya, jika sebelumnya apa yang saya kerjakan itu diimplementasikan di mobil skala 1:8, di tesis ini saya akan mencoba mengimplementasikannya di mobil asli. Mohon doanya ya supaya lancar!

Untuk rencana jangka panjang, mungkin implementasi autonomous driving di Indonesia belum feasible. Selain karena industrinya belum siap, penggunaan autonomous driving di Indonesia belum terlalu dibutuhkan. Tapi dengan saya mendalami autonomous driving di studi saya, saya bisa belajar banyak hal yang tidak ada di Indonesia – seperti penggunaan sensor, integrasi sistem, kecerdasan buatan, dan lainnya – dan bisa diimpelemtasikan dalam banyak hal yang bisa jadi tidak berkaitan dengan autonomous driving namun lebih dibutuhkan di Indonesia.

Adakah sosok yang kamu kagumi dan menjadi inspirasi? Serta apakah ada pesan untuk teman-teman yang ingin meraih kesuksesan sepertimu?

Salah satu inspirasi saya untuk melanjutkan studi di jenjang selanjutnya adalah Prof. Wisnu Jatmiko, pembimbing saya saat S1 sekaligus peneliti senior di lab tempat saya bekerja di Fasilkom UI sebagai asisten riset sebelum berangkat ke Jerman. Beliau sangat tekun dalam mengembangkan riset di bidang kecerdasan buatan dan banyak memberikan support kepada mahasiswa bimbingannya dan kolega risetnya untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Di lab beliau saya belajar banyak hal yang akhirnya membawa saya hingga ke Uni Freiburg hingga hari ini.

Inspirasi saya yang lainnya adalah Prof. Wolfram Burgard, kepala lab AIS tempat saya mengerjakan lomba. Saya memilih masuk ke Uni Freiburg karena beliau adalah salah satu pengarang buku robotika yang sering saya paka saat di Fasilkom dulu – Probabilistic Robotics. Saat dulu saya sangat ingin langsung belajar dari sumbernya, dan Alhamdulillah saya saat ini sudah di Freiburg dan sempat merasakan pengalaman riset kelas dunia.

Kalau disuruh memberi pesan ke teman-teman gimana caranya agar sukses saya cuma mau bilang untuk lakukan yang benar-benar diminati, dan konsisten untuk terus fokus di sana. Saat saya S1 dulu, prestasi saya di lomba robotika tidak terlalu bagus. Tapi karena saya suka, saya tetap ikut terus di beberapa kompetisi selama 3 tahun berturut-turut. Kalau tidak dapat gelarnya, setidaknya dapat ilmu dan pengalamannya. Nah dengan pengalaman yang terakumulasi, siapatahu akan ada kesempatan untuk jadi lebih baik di kemudian hari, dan biarkan sukses menyusul sebagai bonus.

Profil AchieveMan

Nama lengkap: Novian Habibie

Asal: Depok, Jawa Barat

Email: novianhabibie@gmail.com

Twitter/Instagram : @novianhabibie

 Linkedin: https://www.linkedin.com/in/novian-habibie-b0483955/ 

Facebook: https://www.facebook.com/novianhabibie

Jurusan/Topik Riset: Computer Science / Autonomous Driving

Motto hidup: Kegagalan hanya untuk keberhasilan, keberhasilan hanya untuk melangkah lebih jauh lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *