Seperti yang dialami banyak calon mahasiswa studi Islam di Eropa, sayapun berkali-kali mendapatkan pertanyaan yang meskipun berbeda intonasi dan diksinya, memiliki maksud yang kurang lebih sama: “mengapa harus ke Jerman?”. Beberapa orang mencoba senatural mungkin menyembunyikan keheranan dalam pertanyaan yang mereka ajukan. Beberapa yang lain dengan antusias menantikan jawaban yang mereka yakini pasti di luar apa yang dipikirkan. Sisanya lebih ekspresif lagi dengan memberikan pertanyaan tambahan: “Bukannya belajar Islam harusnya ke Timur Tengah ya..?”, atau “Dosen-dosen kamu di Jerman memangnya banyak yang Muslim?”. Biasanya, semakin tinggi tingkat religiusitas si penanya, semakin jelas saya menangkap nada pertanyaan yang sinis dan “memojokkan”.

Saya biasanya melihat dulu tabiat dan gelagat si penanya. Jika dia berasal dari background keilmuan keislaman yang kental seperti Pesantren, maka saya akan memulai jawaban dengan berdehem sebentar dan sedikit melebarkan pundak, menunjukkan bahwa saya serius dan tidak sedang asal-asalan menjawab.

“Jadi….”

Pertama, harus diakui bahwa kebangkitan Eropa pada abad ke-14, menjadikan tradisi keilmuan mereka lebih matang dari tradisi keilmuan di belahan dunia lain. Sebagaimana buah-buahan yang dalam proses menuju matangnya harus melewati fase ‘getir’ dan ‘sepet’, demikian pula yang terjadi pada studi Islam. Terlalu naif jika dikatakan bahwa tulisan-tulisan para orientalis seperti Goldziher (w. 1921), Alphonse Mingana (w. 1937), Scacht (w. 1969), Wansbrough (w. 2002) atau Patricia Cone (w. 2015) yang mengacak-acak hal-hal yang oleh sebagian umat Islam dianggap sakral dan final (seperti asal-usul agama dan otentisitas teks-teks suci) tidak –dalam taraf tertentu- melukai perasaan.

Tapi jika karya-karya provokatif tersebut ditempatkan dalam posisi mereka sebagai bagian dari dinamika perkembangan keilmuan yang sedang berkembang di masanya, maka mereka pantas diapresiasi. Paling tidak, karena provokasi merekalah, muncul dan berkembang genre-genre orientalisme baru yang lebih santun dan bersahabat baik dari kesarjanaan Barat maupun Timur sendiri. Seringkali kita terlalu fokus pada nama orang per-orang dan melupakan bahwa di balik nama-nama itu terdapat peristiwa, ikatan waktu serta dinamika peradaban.

Kedua, romantisme umat Islam –di Indonesia khususnya- terhadap sejarah emas di masa lalunya tanpa disadari membuat mereka masih saja berpikir bahwa Timur Tengah yang sekarang sama jayanya dengan Timur Tengah yang dahulu. Kita seakan tenggelam dengan nama besar Imam Syafi’i> (w. 819), Imam Ghazali> (w. 1111), Imam al-Suyu>t}i> (w. 1505) dan Imam-Imam yang lain. Banyak dari umat Islam di Indonesia yang lupa bahwa rentang waktu yang terlampau jauh antara umat Islam sekarang dengan tokoh-tokoh besar seperti al-T}abari> (w. 923), Ibnu Kathi>r (w. 1372) serta  al-Zamakhshari> (w. 1144), menjadikan mereka tidak lagi hanya sebagai “guru”, melainkan juga sebagai “obyek kajian” yang harus dikupas, ditelaah dan diteliti pemikirannya.

 Ketiga, meskipun tipologi insider vs outsider (baca: muslim vs non-muslim) dalam studi Islam akhir-akhir ini mulai ingin dihapuskan, karena diaggap terlalu polemis, saya pribadi merasa tidak ada yang salah dengan tipologi ini. Justru karena keduanya berangkat dari ‘ikatan’ yang berbeda dengan Islam sebagai ‘sasaran tembak’, keberagaman metodologi dan hasil bacaan akan bervariasi, dan itu ‘baik’ bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Hanya saja, saya sepakat bahwa tipologi insider vs outsider ini seringkali menimbulkan sentimen-sentimen dan kecurigaan-kecurigaan. Ini yang harus dibenahi sebenarnya. Sederhananya, jika kita masih merasa terancam dengan pemikiran-pemikiran outsider, berarti kita masih merasa inferior, lemah dan butuh perlindungan.

Sampai di sini biasanya penjelasan saya bisa diterima.

Lain halnya jika si penanya saya pandang sudah ‘melek’ dengan kemajuan Barat dalam studi Islam, misalnya para senior di kampus. Atau si penanya tersebut punya kepentingan lain, seperti pihak sponsor yang mendanai riset saya 4 tahun di Jerman. Sebelum menjawab, saya benahi dulu cara duduk saya sambil memberikan gestur yang berapi-api, agar mereka juga maklum betapa antusiasnya kami, para pelajar Islam di Jerman khususnya, dan di Eropa pada umumnya.

“Jadi….”

Pertama, saat ini di Eropa, sedang intensif dilakukan kajian terhadap manuskrip, perkamen dan papyri Arab serta tentu saja Islam. Harta karun peradaban yang sangat berharga tersebut tersimpan rapi baik di perpustakaan Leiden, Munchen, Edinburgh, dan Zurich, menunggu untuk ‘dijamah’. Secara periodik, hasil penelitian para ilmuwan ini diseminarkan dan dipublikasikan di Kairo (2002), Granada (2004), Alexandria (2006), Vienna (2009), Tunis (2012), Munich (2014) dan tahun depan (2018) diagendakan untuk diadakan di Berlin. Dalam mega-proyek studi kesejarahan Islam ini, para ilmuwan Muslimpun terlibat aktif, karena studi tentang Islam sudah menjadi milik bersama. Bukan lagi didominasi oleh sekelompok orang dengan pretensi tertentu. Kerja sama akademik Barat-Timur terjalin secara intensif dalam berbagai proyek. Sekarang kita bisa ikut memperhatikan perkembangan kajian naskah lewat perpustakaan online Qatar yang bekerja sama dengan British Library.

51437647966_950x600Di Jerman sendiri (Berlin), sejak 2007, diprakarsai terselenggaranya proyek pimpinan Angelika Neuwirth yang dinamai The Corpus Quranicum. Fokus utamanya adalah mendokumentasikan naskah-naskah al-Qur’an sehingga bisa diakses dan dipelajari dengan lebih praktis oleh para peneliti. Fokus kedua adalah mempelajari sejarah dan kronologi al-Qur’an. Saya masih ingat betul, di akhir 2014, ketika UIN Yogyakarta mendatangkan tokoh-tokoh penting dalam organisasi IQSA (International Qur’anic Studies Association), dalam pidato penutupnya, Farid Essack mengajukan pertanyaan sederhana namun lugas: “Where is Indonesia…?”. Saya ulangi pertanyaannya jika belum jelas. “Di mana Indonesia, yang katanya penduduk Islamnya terbanyak sedunia..?”, Di mana Indonesia, yang katanya menjadi pelopor Islam moderat…?”. Tantangan ini mendesak untuk segera dijawab, tentu tidak dengan kata-kata.

Kedua, mempelajari bahasa Jerman, hukumnya sunnah mu’akkaddah bagi pengkaji al-Qur’an, khususnya berkaitan dengan sejarah dan tafsir kronologis, karena pelopor studi ini adalah orang Jerman dan mereka menuliskan pemikirannya dalam bahasa Jerman. Sebut saja Theodore Noldeke, Gustav Weil, Hubert Grimme, Friedrich Schwally dan Otto Pretzl. Meskipun karya-karya mereka sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, tetapi membaca versi aslinya pasti memberikan “kenikmatan tersendiri”. Lagi-lagi, ini bukan soal mengapa kita harus ‘repot-repot’ mengkaji pemikiran orang Barat. Ini tentang apakah kita mau berlari dan mengejar kereta yang sudah jalan dengan cepatnya, ataukah kita memilih untuk diam sambil mencibir kereta yang sudah jalan tersebut tanpa pernah tahu bagaimana rasanya naik.

Ketiga, di Jerman, dan di Negara-Negara Eropa, kalau kita mengambil program Individual Ph.D, mahasiswa hanya diminta “meneliti”. Tidak ada kelas wajib, yang ada kelas “pengayaan”. Tidak harus setiap hari “ngantor” atau “nge-lab” atau “merpus”, tapi harus punya progress yang pasti yang secara periodik dikonsultasikan keSupervisor. Tidak perlu glembur buat tugas dan presentasi, yang penting target publikasi jurnal internasional tercapai.

Barangkali, tidak semua akademisi cocok dengan sistem se’longgar’ ini. Tapi bagi saya pribadi, ini adalah peluang emas bagi yang ingin melepaskan diri sejenak dari ribetnya urusan administrasi di Indonesia. Ini adalah jawaban dari kegelisahan para dosen yang terlalu padat jadwal mengajarnya. Ini juga jawaban bagi kawan saya yang sekarang tengah menempuh studi S3 di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta. Kata teman saya itu, “Kalau di sini, yang serius malah dipaksa kuliah, yang setengah serius seperti para pejabat yang ingin dapat gelar malah dibolehkan langsung terjun lapangan…”.

Itu jawaban saya bagi penanya yang terlihat intelek. Lain lagi ceritanya jika yang bertanya adalah keluarga, saudara atau teman dekat. Sebelum menjawab, saya minum seteguk air. Menerangkan ke penanya dengan tipe ini biasanya melibatkan emosi dan perasaan.

“Jadi…”

Pertama, meskipun saya bergelut sejak di Pesantren dengan bahasa Arab lebih lama daripada bahasa Inggris, meskipun saya secara kultural lebih mencintai bahasa Arab daripada bahasa Inggris, meskipun saya punya hafalan berbahasa Arab (mulai ayat-ayat al-Qur’an hingga peribahasa) yang jauh lebih banyak daripada hafalan berbahasa Inggris (biasanya lirik lagu, itupun sepenggal-dua penggal saja), tetapi saya lebih mudah membaca teks serta menulis dalam bahasa Inggris daripada bahasa Arab, utamanya buku-buku Arab modern yang gaya bahasa dan perbendaharaan katanya semakin lama semakin rumit.

Alasan teknisnya, karena untuk mengetik huruf Arab saja, saya butuh dua kali waktu yang saya butuhkan untuk menulis latin. Alasan lain baru saya sadari beberapa waktu lalu, ketika dalam sebuah moment sholat Jum’at di Masjid Arab Freiburg, sang khotib hanya membacakan surat Qa>f dalam khutbahnya. Di akhir sholat, khotib berdiri menerangkan kandungan beberapa ayat di surat yang dibacanya tadi, sembari mengatakan: “meskipun Bahasa Arab adalah bahasa ibu kami, tapi saya perlu menerangkannya lebih detil, karena Bahasa Arab saat ini telah mengalami perkembangan yang pesat”, tegas si khotib.

Kedua, secara personal, ini adalah kesempatan emas bagi saya sekeluarga untuk belajar dari keteraturan pola hidup di Eropa. Tentu tidak untuk bersenang-senang lantas membanding-bandingkan dengan keadaan di Indonesia tecinta. Tetapi untuk membangun mindset tentang apa saja yang baik dan tidak baik dilakukan jika ingin, paling tidak menyusun strategi bagi masa depan keluarga kecil kami, syukur-syukur bisa ditularkan ke masyarakat sekitar.

Ketiga, gejolak Arab Spring beberapa tahun terakhir yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, menjadikan negara-negara Eropa untuk saat sekarang, lebih aman daripada Negara-Negara di Timur Tengah. Keamanan berbanding lurus dengan kenyamanan, dan kenyamanan berbanding lurus juga dengan kejernihan berpikir dan maksimalnya proses studi, kan?

Terakhir, jika yang bertanya ternyata teman seperjuangan zaman kuliah dulu, atau sama-sama pemburu beasiswa, sebelum menjawab, saya hela nafas panjang, “lah bagaimana lagi…, supervisornya dapatnya itu…”. Biasanya teman saya tersebut tertawa puas, tapi saya hanya tersenyum getir.

-Mu’ammar Zayn Qadafy, PhD Candidate in Islamic Studies Albert-Ludwig Universitat, Freiburg-