Saya dulu orangnya males berolahraga, setiap kali disurah ortu untuk berolahraga, bawaannya maleees banget. Kalau temen-temen ngajak main bola atau badminton, selalu malas. Akhirnya ayah ngelesin renang, eh ternyata suka. Jadilah hobi. Meskipun sekarang di Jerman jarang karena dingin….

Buat orang Jerman, olahraga itu sangat penting. Mereka sadar kalau orang itu buat hidup perlu sehat. Salah satunya ya olahraga. Angka harapan hidup Jerman sangat tinggi, hampir sampai 80,89 tahun. Dibandingkan Indonesia yang hanya 70,61 tahun. Saya jarang sekali melihat orang-orang di bus atau di kereta atau di kampus yang overweight, pasti pada ideal-ideal badannya. Yang cewek ya sexy, yang cowok ya kekar berotot. Itu gambaran umum sekali kalau kita melihat kehidupan sportlich nya anak muda Jerman. Dan bukan hanya pemuda pemudi saja, namun di Kindergarten dan Schule (SD) sampai Gymnasium (SMA) juga seperti itu. Tubuhnya hampir semua proporsional, bahkan saya belum pernah melihat anak SD overweight.

Kenapa ya orang Jerman sangat suka berolahraga? Kalau ditanyakan langsung ke orang Jerman, jawabannya ya karena itu kebutuhan. Teman-teman saya rata-rata menyempatkan 30 menit sampai 1 jam untuk berolahraga setiap harinya, setiap hari lho. Wow banget. Co-supervisor saya seorang wanita paru baya, dan dia juga merupakan guru les renang. Olahraga benar-benar membudaya di Jerman. Ada suatu studi yang dilakukan Uni Eropa pada tahun 2009-2010, seberapa sering mereka berolahraga. Saya sampaikan dalam chart di bawah ini.

Angka olahraga jerman

Intensitas Kegiatan Olahraga di Eropa (Jerman ditandai dengan kode DE)

Dari diagram di atas, hanya sekitar 31% orang Jerman yang tidak rutin berolahraga. Kalau dibandingkan kita di Indonesia, sepertinya jauh sekali. Pada satu sumber, dari CNN Indonesia tahun 2015, sebanyak 23,8% dari 1000 pekerja di Jakarta dan kebanyakan wanita, menyatakan tidak pernah berolahraga. Mereka kebanyakan bekerja, tapi tidak berolahraga, hasilnya mereka pun suka mengantuk di tempat kerja dan sering mengeluh pegal-pegal. Kita coba bandingkan dengan kinerja orang-orang di Jerman yang sangat efisien dan efektif. Dengan 8 jam bekerja per hari, mereka bisa menghasilkan sesuatu yang produktif dan mereka juga bisa berlibur dengan cukup.

Kinerja otak sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang diterima oleh otak itu sendiri. Dengan makan makanan bergizi dan aliran darah yang lancar ke otak, maka proses berpikir pun juga meningkat. Tidak hanya otak, dengan berolahraga, semua organ kita juga akan sehat, jantung sehat, paru-paru sehat, ginjal sehat, pembuluh darah juga sehat.

Nah, sebagai mahasiswa, bagaimana mengatur waktu berolahraga. Mudah, intinya luangkan waktu selama 30 menit sehari minimal untuk berolahraga, bisa berlari atau join di gym studio. Selama seminggu 2-3 kali sudah cukup. Banyak jalan kaki dan bersepeda juga salah satu cara mudah untuk berolahraga ringan. Gunakan tangga dibandingkan lift. Banyak sekali orang Jerman yang lalu lalang untuk sekedar berlari kapanpun dan dimanapun, itulah kuncinya, niat. Kalau kita ada niat ya pasti terlaksana. Kalau udara dingin ya cukup pakai long john, sebagai dalaman. Dingin tidak akan terasa kalau sudah lari.

Saya jujur lebih memilih lari di treadmill dibandingkan lari di udara luar yang dingin. Saya meluangkan waktu sekitar 3-4 kali seminggu untuk berolahraga di gym studio, cukup murah, sebulan sekitar 19,99 Euro dan buka 24 jam. Bisa datang kapanpun. Sebagai contoh, saya membership di McFit dan bisa dipakai di seluruh Jerman dan Eropa kartu membershipnya.

IMG_5004

Olahraga itu penting, yuk dimulai!

Saya bekerja sebagai dokter, tentunya akan mempromosikan gaya hidup sehat kepada pasien-pasien saya, oleh karena itu saya harap siapapun yang membaca artikel ini, mari kita budayakan olahraga dan ajaklah teman dan keluarga di sekitar Anda untuk terus berolahraga.

Salam olahraga.

-dr. Nyityasmono Tri Nugroho, SpB, Kandidat Doktoral di Westfälische Wilhelm Universität, Münster-

Referensi:

http://ec.europa.eu/public_opinion/archives/ebs/ebs_412_en.pdf

http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150519174526-255-54296/hasil-survei-warga-jakarta-kebanyakan-kerja-kurang-olahraga/