Perkenalkan nama saya Ridzky Anis Advent Yuda, saat ini sedang menempuh program master di TU Dresden Jerman. Alhamdulillah, tidak terasa sudah satu semester periode perkuliahan di program MSc Regenerative Biology and Medicine telah saya tempuh, dan banyak cerita yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini sebagaimana lanjutan dari tulisan saya sebelumnya di website Formal Jerman yang berjudul “Memilih kuliah di pusat penelitian stem sel TU Dresden”. Tulisan saya kali ini akan membahas terkait pengalaman rotasi lab (lab rotation) yang menjadi daya tarik tersendiri dari kurikulum wajib dalam program Regbiomed.  Selain itu pada tulisan ini, saya ingin membahas peluang menjadi research assistant atau istilah lainnya student assistant (Studentische Hiftskraft), yang mana sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman riset dan pemasukan (sambil menyelam menjaring ikan, ehh dapat juga deh ikannya ahahaha ? ? ?).

Rotasi lab adalah program magang (internship) penelitian pada kurun waktu singkat (1 semester) yang bertujuan untuk mempelajari topik penelitian tertentu di bawah group riset di salah satu institut. Setiap jurusan memiliki setidaknya 2 hingga 3 rotasi lab wajib dengan durasi 1 semester per topik rotasi labnya. Jadi tiap mahasiswa, wajib melakukan rotasi di tiga lab berbeda di tiap semesternya. Metode ini memungkinkan setiap mahasiswa mempelajari dan melakukan berbagai macam topik penelitian berbeda pada tiap semester, sebelum memutuskan untuk mengambil tema riset yang dirasa cocok untuk master thesis. Selain itu, Karena rotasi lab di dalamnya terkait proses meneliti dan mempelajari metode-metode eksperimen tertentu, hal ini sangat bermanfaat untuk mempersiapkan kemampuan saintifik dan teknis guna melanjutkan studi di program doktor. Program rotasi lab sering kali dilakukan oleh beberapa kampus-kampus di Jerman yang memiliki program master yang terafiliasi atau diajarkan oleh institut-institut penelitian terkait. Sebagai contoh, di program MSc Regbiomed, selama tiga semester pertama diwajibkan mengikuti magang penelitian rotasi lab dengan topik-topik berbeda di berbagai institut seperti Center for Regenerative Therapies Dresden (CRTD), Biotechnologische Zentrum, Medical Theoretical Zentrum, Max Bergmann Center for Biomaterials, dan Max-Planck Institute for Molecular Biology and Genetics.

20170321_101322

Instrumen TEM

Tiga modul rotasi lab di regbiomed antara lain model organisms on stem cell research, cell and organ based research, dan molecular biology based yang wajib. Ketiganya wajib di ambil di masing-masing semester, sebagai contoh semester pertama tema model organisme, kemudian semester kedua cell and organ based research, dan di semester ketiga adalah molecular biology research. Tiap semester, mahasiswa diwajibkan melakukan kegiatan penelitian minimal selama 225 jam, yang mana jika dikonversikan setara dengan 4 bulan, dan di akhir semester terdapat mini thesis defence dan oral exam. Student menjalani rotasi lab juga diwajibkan mengikuti weekly lab meeting atau journal club di tiap-tiap group penelitian, yang mana hal ini sangat bagus untuk menambah pengetahuan dan mempertajam kemampuan analisis terhadap sebuah hasil penelitian.

Kelebihan lain dari system rotasi lab di TU Dresden ini adalah keleluasaan setiap mahasiswa untuk memilih lab dan topik penelitian tertentu, selama masih dalam modul yang dipersyaratkan dan kadang juga melalui proses interview Pada semester pertama, saya mengambil rotasi lab terkait model organisme di lab Dr Christian Boekel yang meneliti proses regulasi stem sel niche menggunakan model lalat buah (Drosophila). Sebagaimana bunyi sebuah adagium, Science is not always smooth, berbagai kegagalan eksperimen juga berkali-kali saya alami dan mendorong saya untuk sering-sering berkonsultasi dan mencari pendekatan alternative maupun trial error. Pada akhirnya, walaupun sering lembur hingga pulang lebih dari pukul 21.00, saya akhirnya berhasil menghasilkan lalat rekombinan yang dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme kompetisi antar stem sel di dalam niche. Disamping mengasah kemampuan dalam meneliti, kemampuan menulis dan mempresentasikan hasil penelitian juga akan terasah Karena di akhir periode terdapat ujian mini thesis. Di semester kedua nanti, insya Allah saya akan memulai rotasi lab dengan tema cell and organ based research pada topik proses maturasi axon neuron hasil diferensiasi dari stem sel pluripotent di salah satu lab di CRTD.

20170131_151130

Penulis sedang menjalani rotasi lab pada semester pertama

Kuliah di Jerman, terlebih lagi jika belajar di program-program yang berafiliasi dengan pusat-pusat penelitian, merupakan sebuah kesempatan emas untuk mencari sebanyak-banyaknya pengalaman riset (pengalaman kerja) sekaligus mencari tambahan rezeki. Hal ini tidaklah berlebihan karena by law setiap international student yang belajar di Jerman memiliki ijin bekerja part-time 4 jam sehari selama maksimal 6 bulan dalam setahun (atau kalau bekerja fulltime 8 jam per hari maksimal 3 bulan). Selain itu, karena lembaga-lembaga penelitian seringkali membutuhkan tambahan tenaga untuk menjadi asisten pada projek penelitian tertentu, tak jarang banyak juga mahasiswa-mahasiswa yang bekerja sebagai studentische hiftskraft (SHK). Sebagai contoh teman saya seorang anak India di jurusan Molecular Bioengineering semester ini nyambi bekerja sebagai asisten penelitian di Max Planck Institute. Contoh lainnya adalah salah satu teman saya anak Jerman juga bekerja membantu penelitian di grup neuronal stem cell. Berbagai peranan mulai dari membantu mengerjakan eksperimen hingga mengkoleksi data adalah tugas wajib mingguan seorang SHK. Durasi jam kerja per minggu sangat bervariatif antar SHK, ada yang 8 jam hingga maksimal 20 jam per minggu, dengan kisaran gaji antara 8,5-10 Euro per jam nya. Setiap research assistant atau student assistant memiliki kontrak kerja (arbeitsvertrag) yang menerangkan periode bekerja (arbeitszeit) dan perolehan gajinya per bulan.

Banyak cara untuk mendapatkan kesempatan menjadi asisten riset, salah satunya dengan terus rajin memantau baik email maupun papan pengumuman di institut. Seringkali, informasi-informasi tersebut dipampang bebas dan siapa cepat dia yang dapat (tentunya harus melalui proses interview dan berdasarkan kecocokan dengan pengalaman sebelumnya). Cara kedua adalah dengan mengirim email lamaran langsung sekedar untuk menanyakan apakah ada posisi asisten. Cara ini saya berhasil lakukan, dan alhamdulillah setelah sekian banyak email dan interview, saya mendapat job untuk membantu sebuah projek di pusat fasilitas mikroskop elektron milik CRTD, institut dimana saya tempat kuliah. Lebih dari itu, system rotasi lab di kampus jerman juga memungkinkan seorang student untuk “menjual diri” untuk memiliki peluang menjadi student assistant. Sebagai contoh, seorang teman dari Turki diakhir rotasi lab di salah satu kelompok riset diabetes, mendapat tawaran dari kepala labnya untuk menjadi asisten karena asas kecocokan dan kepuasan kinerja. Dan hal ini juga saya buktikan ketika supervisor saya sebelumnya menawari pekerjaan di labnya untuk semester ketiga.

Pada intinya adalah, tunjukkan sebaik mungkin kinerja kita ketika di lab karena kita tidak pernah tahu dari jalan mana tiap rezeki mendatangi kita.

Sekali lagi, banyak sekali kesempatan pengembangan diri yang ditawarkan ketika mengambil studi di jerman, baik melalui program wajib berupa rotasi lab maupun menjadi research assistant, tinggal bagaimana kita sebagai pribadi mampu mengoptimalkan semua potensi dan kesempatan yang ada. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi teman-teman yang berminat untuk melanjutkan jenjang pendidikan tinggi di negeri yang penuh dengan inovasi, Jerman. Salam hangat dari perbatasan Jerman-Republik Ceko, Dresden.

-Ridzky Anis Advent Yuda, MSc Regenerative Biology and Medicine, Technische Universität Dresden-