Sebagai seorang muslim, tinggal  di negara dengan minoritas muslim seperti Jerman merupakan suatu tantangan tersendiri. Khususnya untuk melaksanakan ibadah sholat. Disini waktu sholat sering berbenturan dengan aktivitas lain Karena adanya perbedaan waktu (waktu siang bisa sangat panjang atau sangat pendek). Selain itu tempat sholat tidak mudah ditemui seperti di Indonesia. Jika ada tempat kosong, biasanya tempat tersebut merupakan tempat yang ramai dilalui. Sehingga terkadang muncul pikiran canggung untuk melaksanakan sholat di tempat umum. Berikut ini beberapa hal terkait sholat yang bisa dilakukan apabila teman-teman mengunjungi atau tinggal di negara minoritas muslim.

  • Jangan sungkan untuk bertanya mengenai tempat yang bisa digunakan untuk sholat. Pertanyaan bisa ditujukan ke siapa saja, mulai dari staf di kampus, senior di jurusan, atau paling mudah teman-teman dari Indonesia yang berada di negara atau kota yang sama. Pertanyaan bisa mengenai tempat atau ruangan untuk beribadah atau bisa juga secara spesifik terkait tempat untuk sholat apabila kita bertanya kepada teman muslim dari negara lain. Biasanya banyak mahasiswa dari negara muslim lain yang menyediakan tempat sholat meskipun semisal diantara loker-loker.
  • Jika dirasa masih sulit, jangan hanya menunggu bola. Maksudnya, kita juga harus aktif mencari tempat-tempat kosong yang sekiranya bisa dijadikan tempat sholat. Biasanya bagian bawah tangga atau tangga menuju atap gedung merupakan bagian yang jarang dilalui orang. Teman-teman juga bisa memanfaatkan ruangan kelas yang sedang tidak terpakai. Tentunya teman-teman harus pastikan jadwal kelasnya dengan baik. Selain itu, perpustakaan juga bisa menjadi tempat untuk sholat sekaligus untuk belajar.
  • Apabila tempat sholat, kini giliran wudhu nya yang perlu diperhatikan. Membiasakan wudhu sebelum pergi keluar tempat tinggal merupakan cara yang baik untuk mempermudah kita melaksanakan sholat dikemudian waktu. Jika wudhu kita batal sebelum waktu solat, kita bisa melakukan wudhu ulang. Beberapa ulama ada yang menyatakan apabila kita menggunakan khuf/kaos kaki setelah berwudhu, maka untuk wudhu berikutnya kita cukup mengusap khuf/kaos kaki tersebut tanpa perlu melepasnya. Khuf sendiri merupakan penutup kaki yang terbuat dari kulit sementara kaos kaki dari bahan katun, wol, atau sejenisnya. Khuf/kaos kaki ini juga harus menutupi permukaan kulit dan dipakai maksimal sehari semalam bagi orang yang bermukim dan tiga hari untuk musafir. Yang paling penting khuf/kaos kaki ini tidak terkena najis.
  • Hal lain yang bisa dilakukan untuk jaga-jaga apabila kita perlu melakukan wudhu adalah dengan selalu membawa botol minum. Disini tidak semua tempat memiliki tempat wudhu yang mumpuni. Kalau pun ada wastafel, terkadang ketika toilet sedang ramai tentu kita menjadi kurang leluasa untuk berwudhu. Nah, botol minum bisa kita gunakan untuk berwudhu atau juga sekedar untuk membasuh kaki apabila kesulitan membasuhnya di wastafel.
  • Terakhir, kita juga diperbolehkan untuk membasuh bagian tubuh yang termasuk kedalam rukun wudhu (muka, lengan, kepala dan kaki) masing-masing sekali saja. Sisanya merupakan sunnah. Tentu selain lebih praktis, cara ini juga tidak memerlukan terlalu banyak air, dan yang terpenting sesuai sunnah.

Semoga tulisan ini dapat membantu mempermudah teman-teman semua yang saat ini sedang berada diperantauan dan ingin melaksanakan sholat.

M. Abdurrachman Saleh, Universität zu Köln