Hi, bertemu lagi dengan tulisan saya ke dua puluh enam selama tinggal di Jerman (emang sudah serajin itukah ya saya dalam menulis?). Kali ini coretan keyboard saya akan mengangkat tentang pengalaman disertai bumbu comot sana sini dari berbagai rumpian tetangga tentang topic yang sama. ZOLL adalah kata dalam Deutsch yang berarti custom/beacukai/karantina tidak ada arti yang tepat sih kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia tapi kurang lebih begitulah artinya. Dalam bahasa aselinya begini tugasnya: Die Zollverwaltung kontrolliert den grenzüberschreitenden Warenverkehr und erhebt Zoll- bzw. Steuerabgaben”, jadi barang yang masuk ke Jerman dari luar baik melalui pelabuhan udara, pelabuhan laut bahkan melalui jalur darat akan dikontrol keamanannya, keabsahannya, keselamatannya, kesehatannya, kegunaannya dan nyah nyah lainyah.

Zoll 1

sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f5/Zentrale_Unterst%C3%BCtzungsgruppe_Zoll_-_Beamter_%281%29.JPG

Waktu pertama saya harus terbang untuk melanjutkan studi ke Jerman 7 tahun yang lalu, saya tidak mendapat referensi yang banyak tentang makanan dan produk yang boleh saya bawa di dalam koper. Maklum saya dibesarkan oleh keluarga tukang makan, apalagi melihat saya akan tinggal selama 2 tahun jauh dari rasa makanan Asia terlebih lagi makanan Sunda, maka keluarga membekali seluruh makanan kesukaan saya untuk 2 tahun makan di Jerman (bayangkan isi koper saya makanan untuk 2 tahun booo….hahahaha bikin kaget ga sih). Saat itu menolak terhadap kebaikan adalah tabu apalagi saya juga emang doyan makan, jadi dengan senang hati saya saksikan satu persatu olahan daging, corned beef, sarden, rending, paru goring, ikan asin cumi kesukaan tertata rapi di koper.

Zoll 2 Zoll 3

sumber :

http://kulinerqu.com/wp-content/uploads/2014/05/resep-rendang-padang-kering-ihruzmcw.jpg
http://img-1567.kxcdn.com/2012/06/Sambal-Teri.jpg

Hari H telah tiba, diantar seluruh keluarga saya melepas pandangan menuju bandara. Sedih sekaligus bahagia, sedihnya saya akan kehilangan suara dan kehangatan keluarga tapi bahagianya adalah kesempatan menjadi orang hebat tidak setiap orang bisa merasakannya. Saya sudah lupa isi koper, yang saya ingat tiket pesawat untuk segera saya tukarkan dengan boarding pass dan memasukan seluruh cadangan berhibernasi 2 tahun di Jerman kedalam perut pesawat tujuan Frankfurt. Satu hari kemudian kaki dilangkahkan keluar dari pesawat Qatar Airways di sebuah bandara terbesar di Eropa, Frankfurt Am Main Flughafen, kikuk tapi tetap woles, mengikuti alur menuju pintu keluar bandara rasanya pede banget, gaya banget dan sok eropa banget. Tibalah di conveyor baggage claim, satu koper besar dari Indoensia sudah terlihat disana, didalamnya ada bekal hidup yang bisa mamanjakan saya di Jerman. Pintu keluar sudah terlihat dan tiba-tiba ada 2 orang memanggil saya dengan suara keras tapi sopan, “sorry Sir, could you please follow me….” Weit muka gaya berubah panic, aya naon ieu????? Salah apa sayah??? Tetap mencoba menarik nafas setengah panjang tapi kedua tangan tetep berasa Parkinson, vibrasi semakin hebat manakala petugas berbaju biru lengkap dengan pistol dan lencana ZOLL menyuruh saya membuka bagasi.

Oh My Godness, Ya Allah ada apakah gerangan yang terjadi?? Saya ke Jerman untuk sekolah jangankan saya terpikir membawa narkoba, rokok satu batang pun ga pernah memasukannya ke koper. Satu persatu barang saya turunkan dari tas, dan jreng…jreng si petugas meminta menurunkan seluruh makanan dalam kemasan untuk di declare. Disitulah saya sadar bahwa saya masuk ke negara dengan aturan MELARANG MAKANAN BERBAHAN DASAR DAGING, SUSU, KEJU, IKAN masuk ke Jerman. Ancamannya dua, denda (konon katanya) mencapai 125 EUR atau saya membuangnya ke tempat sampah yang rasanya bikin sakit hati. Pilihan yang paling sulit adalah ketika saya meletakkan satu persatu corned beef halal, ikan asin dan rendang serta paru ke dalam sebuah container sampah di pojok ruang custom, yang tersisa hanyalah mie instan dan camilan Bandung pengobat luka kehilangan semuanya.

Perjalanan dari Frankfurt am Main menuju ke kota tujuan rasanya terasa begitu sulit, kehilangan makanan kegemaran seperti kehilangan gairah hidup kehilangan sumber energi. Tapi pelajarannya adalah, saya harus lebih jeli membaca aturan custom suatu Negara, KALAU TIDAK BOLEH ya tidak memaksakan, kecuali TAHU TIDAK BOLEH tapi GIMANA CARANYA HARUS BOLEH itu yang saya belum coba lakukan. Semoga masih diberi kesempatan bisa membawa lagi rendang, paru dan corned beef kesukaan dengan bungkus kado (kata orang-orang) supaya terlihat seperti souvenir hehe..selamat berkemas bagi yang akan terbang ke Jerman, wrapping is the art of life for traveler!

 

Penulis : Roni Susman (S3 TU Berlin)