“Aku harus ke Jerman”

 

Hanya itu yang ada di pikiranku ketika mulai kuliah. Bagaimanapun caranya aku harus ke sana. Ini adalah sikap keras kepala milikku yang kupikir menguntungkan untuk disimak.

Mengapa?

Ingatanku sebagai anak umur enam tahun terbatas. Aku hanya ingat bahwa aku menyukai apa yang ibuku lakukan. Aku menyukai segala sesuatu tentang Jerman (kecuali toilet keringnya) hingga aku bertekad aku ingin sekolah ke Jerman seperti ibuku. Ibuku sering bernostalgia tentang bagaimana ibuku menjalani tesisnya, kegiatan di sana, dan lain-lain. Apa yang terjadi di otakmu ketika “sekolah di Jerman” itu menjadi repetisi dan ingatan masa kecilmu di sana adalah hal-hal yang menyenangkan? Seluruh sel di tubuhmu akan punya memori tetap, “aku harus kembali ke sana”. Mimpi biasanya dipengaruhi oleh orang-orang terdekat dan mimpiku sekolah ke Jerman adalah hadiah dari ibuku. Iya, mimpi itu hadiah. Hadiah karena ini membuatku berharap dan punya tujuan.

Itulah yang terjadi di sepanjang masa kuliah sarjanaku di Indonesia. Aku berpikir bagaimana caranya bisa kembali ke Jerman dalam rangka sekolah. Gagasan ini tertanam kuat di kepalaku selama bertahun-tahun. Ketika tekadmu sudah sekuat itu, badanmu tanpa sadar akan berusaha mewujudkan hal paling permanen yang ada di otakmu seumur hidupmu. Itulah yang terjadi kepadaku. Di sini adalah ketika aku menjadi saksi pepatah “di mana ada kemauan di sana ada jalan”. Kejadiannya benar seperti itu.

Menjelang kelulusanku sebagai sarjana, aku langsung mencari-cari beasiswa yang tepat. Ibuku mendukungku dengan memberikan semua info beasiswa yang datang dari komunitas alumninya, alumni DAAD. Namun, karena beliau mendapatkan beasiswa DAAD sebagai seseorang yang sudah bekerja, terpatri di otakku bahwa DAAD hanya untuk yang sudah bekerja. Kesempatanku dapat akan kecil sekali, padahal aku ingin langsung sekolah lagi setelah lulus. Aku pun tidak mencari tahu lebih banyak tentang DAAD.

Aku beralih ke Erasmus Mundus karena beasiswa yang satu ini banyak penerimanya dari universitasku. Sekali daftar sudah langsung mendapat beasiswa dan universitasnya, mudah sekali kan? Aku langsung mencari semu program Erasmus Mundus yang terkait dengan minatku, ekologi. Pilihanku saat itu adalah dua beasiswa Erasmus Mundus yang memungkinkanku berpindah di berbagai universitas di Eropa: TROPIMUNDO dan IMAE. Mengapa dua? Karena daftar satu belum tentu diterima. Berbeda dengan mendaftar ke universitas di Indonesia ketika masa SNMPTN, beberapa program master lebih fleksibel dalam tenggat waktu konfirmasi karena kalender akademik negara di Eropa berbeda dari kalender akademik di Indonesia. Aku berusaha keras menyusun CVku sebagus mungkin dengan bantuan senior-senior yang sudah berhasil sekolah ke luar negeri. Surat motivasi juga ditulis berhari-hari lamanya sebelum tenggat waktu. Puluhan laman tentang bagaimana menulis surat motivasi yang baik dari Google kulahap semuanya. Namun, setelah semua itu, dua program yang menjadi targetku tidak meloloskanku sebagai penerima beasiswa.

Mereka menerimaku, tapi tidak memberiku beasiswanya. Namun, mereka memberiku banyak link tentang sumber dana yang mungkin untukku tapi aku harus mencarinya sendiri.

Semua ini berjalan paralel dengan aplikasiku ke sebuah universitas di Jerman tempat aku berkuliah sekarang dan pendaftaranku ke LPDP. Mengapa dari awal aku tidak fokus ke LPDP? Percaya atau tidak, kala itu aku tidak suka LPDP.

Pertama, persyaratannya banyak. Surat ini dan itu, esai ini dan itu, dan masih banyak lagi. Itu juga masih harus wawancara. Kedua, aku harus fokus mendaftar beasiswa dan mencari sekolah. Dibandingkan Erasmus Mundus yang memberikan beasiswa dan sekolahnya, LPDP tampak merepotkan di mataku. Selain itu, berbeda dengan Erasmus Mundus yang terus didengungkan di kampusku, LPDP belum terlalu populer.

Tapi aku tidak diterima Erasmus Mundus dan aku harus melangkah maju. Cuma satu yang ada di pikiranku, “aku harus ke Jerman”. Dengan itu di kepalamu selama bertahun-tahun, tidak sulit untuk selalu bergerak mencari segala peluang yang mungkin. Jujur, ketika melihat ke belakang seperti ini, aku tidak menyangka aku yang dulu duduk berjam-jam di depan laptop untuk mencari semua informasi tentang sekolah ke Jerman itu aku yang sekarang menulis cerita ini untuk kalian. Aku buang jauh-jauh ketidaksukaanku dan mencoba.

Yang kusesalkan kala itu adalah aku tidak banyak meminta bantuan ibuku yang jelas lebih tahu hanya karena aku tidak ingin merepotkan beliau. Tapi aku tahu, doa beliau yang memudahkan segala ini. Aku bisa bilang sekarang bahwa restu orang tua adalah faktor utama yang sejajar dengan tekad. Aku merasa aku meluncur dengan semua pendaftaran itu, nyaris tak ada kesulitan, karena kedua orang tuaku sangat mendukungku untuk melanjutkan sekolah.

Aku melengkapi semua administrasi yang diminta LPDP untuk ikut periode kedua seleksi tahun 2015. Ketika itu, aku sudah mendaftar ke LMU, Jerman untuk Munich Graduate School of Evolution, Ecology, and Systematics (EES). Semua mata kuliah yang kuminati selama sarjana dalam satu program master. Aku belum tahu kala itu diterima atau tidak. Selama tujuh bulan lebih setelah wisuda, aku menganggur. Bisa dibilang mencicil krisis usia perempat baya karena banyak temanku yang sudah mendapatkan pekerjaan. Aku mulai bimbang apakah aku sebaiknya mencoba mencari kerja atau menunggu pengumuman.

Tapi, seperti yang sudah kukatakan, seluruh sel di tubuhku ingin ke Jerman. Aku sempat mendaftar pekerjaan namun tidak memaksimalkan diri saat wawancara karena ibu ingin aku lebih fokus kepada mencari sekolah jika memang itu yang ingin kulakukan. Genap sudah atmosfer duniaku terangkum dalam satu frase selama enam bulan: mencari sekolah dan biayanya.

Segala puji bagi Allah, aku lulus seleksi administrasi. Aku menjalani wawancaraku di Jogja, sekitar tiga jam dari rumahku di Semarang, dengan dukungan seluruh keluargaku. Kalau boleh jujur, hanya satu hal yang kupikirkan menjelang wawancara: aku ingin orisinil. Terlepas dari kemeja pinjaman Bude, aku ingin tampil seperti diriku apa adanya ketika wawancara. Aku ingin lolos karena aku adalah aku. Tidak dihias basa-basi nasionalisme atau dominasi ideologi pribadi. Aku ingin pewawancaraku bertemu Sabhrina Gita Aninta dalam kondisi sehari-harinya.

Aku tidak bohong ketika aku bilang gugup mendekati jadwal. Ada perasaan seperti akan masuk panggung ketika kamu sedang mempersiapkan dirimu dinilai orang lain. Ada perasaan ingin menamengi dirimu dengan segala sesuatu yang baik dan memberikan kesan yang menyenangkan. Itu memang yang terjadi, tapi bisa kukatakan tidak ada yang spesial.

“Indonesia butuh lebih banyak ahli di bidang basic science,” jawabku ketika ditanya tentang nama jurusanku yang tak lazim.

Banyak gosip tentang bagaimana LPDP menentukan penerima beasiswanya, dan salah satunya adalah kuota jurusan. Entah apakah karena memang aku satu-satunya orang yang belajar bidang yang kupelajari ini dari sekian banyak yang mendaftar, LPDP memang punya visi di bidang sains hayati, atau aku memang dinilai layak menerima beasiswa mereka, aku tak tahu. Singkat kata, aku lolos. Entah mengapa. Banyak kata “mungkin” yang keluar dariku ketika teman-temanku bertanya. Tapi aku menemukan satu kesamaan di sebagian besar teman-teman sesama penerima beasiswa LPDP: mereka tahu apa yang mereka lakukan. Ada tekad bawah sadar yang terpatri di benak mereka, apa pun itu. Ada tujuan di hadapan mereka, seabstrak apa pun itu. Tujuanku adalah membantu masyarakat Indonesia menjadi khalifah Bumi yang baik dengan memikirkan spesies lain yang tinggal bersama mereka.

Tapi aku belum tahu apakah aku lolos seleksi universitas atau tidak. Bisa kukatakan ada degupan keras ketika panitia seleksi untuk EES dari LMU mengirimiku kabar bahwa aku diminta siap untuk seleksi kedua via Skype akhir Maret. Aku hanya diminta presentasi selama lima menit namun aku berlatih selama berhari-hari di kamar sampai tidak ada yang berani mengetuk pintu kamarku. Seminggu kemudian, mereka menyatakan aku lolos dan tinggal menunggu Letter of Acceptance dari universitas pusat.

“Aku harus ke Jerman,”

Aku bersyukur dengan tekad bawah sadar ini. Kadang-kadang, keras kepala dalam bertekad itu penting. Sikap ini membuatmu konsisten dalam usaha dan tujuanmu. Tak disangkal ini membuatmu masuk ke dalam masalah sesekali. Hanya saja, selalu ada dua sisi dari segala sesuatu dan aku menemukan sisi lain yang menguntungkan dari kekeraskepalaanku. Setiap orang punya sisi yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuannya dan untuk kasusku, ia adalah keras kepala.

Sebagai tambahan, aku harus memberitahu bagian terbaik dari mendapatkan mimpi atau tekadmu terpenuhi: kamu harus mencari mimpi atau tekad baru. Patri itu ke bawah sadarmu dan mulai kembali perjalananmu. Mimpi baruku? Menjalani sekolahku dengan baik sebagai rasa syukur tentunya.

 

Munich, 11 Februari 2016

Sabhrina Gita Aninta