Apabila pembaca berencana mengunjungi Frankfurt am Main, salah satu kota terbesar di Jerman yang terletak di negara bagian Hessen dalam waktu yang sebentar yaitu sehari saja (atau bahkan setengah hari :D), baca terus artikel ini. Penulis akan memaparkan beberapa referensi jalan-jalan seru nan bersejarah di tengah kota Frankfurt; kota yang juga terkenal sebagai kotanya penulis kebanggan Jerman, Goethe, dan tempat lahirnya parlemen negara Republik Federal Jerman.

 

Sebagai informasi, di Jerman terdapat Frankfurt lain yang juga sering disebut, yakni Frankfurt an der Oder. Frankfurt yang ini jelas berbeda; dilewati oleh sungai Oder, kota ini terletak di perbatasan Jerman dan Polandia, dan merupakan bagian dari negara bagian Brandenburg, tetangga timur sang ibukota Berlin. Frankfurt yang kali ini akan kita bahas adalah Frankfurt yang dilewati sungai Main :)

                                                           [Serupa (nama) tapi tak sama]

 

Frankfurt adalah salah satu dari lima kota terbesar di Jerman dengan populasi kurang lebih 5.5 juta. Kota ini merupakan pusat keuangan negara Jerman dan benua Eropa. Buktinya, Bank Sentral Eropa, Bank Federal Jerman, dan bank-bank besar Jerman lainnya seperti Deutsche Bank dan Commerzbank bermarkas di kota yang bandaranya juga merupakan salah satu bandara internasional tersibuk di dunia (Frankfurt Airport atau sering disebut juga sebagai Fraport). Pusat perdagangan saham Jerman, Bursa Efek Frankfurt (Deutsche Börse, atau Frankfurt Börse) telah berdiri dan beroperasi di kota ini sejak tahun 1585.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Mengapa banteng dan beruang yaa yang menjadi ‘pajangan‘ di depan gedung Deutsche Börse? J]

Namun apakah pembaca tahu? Di balik gambaran metropolis orientasi bisnis yang sering digambarkan secara umum mengenai Frankfurt, kota ini dulunya merupakan pusat politik Jerman selama berabad-abad. Selain dijadikan sebagai pusat pemilihan para kaisar Jerman ketika Kekaisaran Suci Romawi berkuasa di Eropa sekitar abad IX s.d. XIX, kota ini juga merupakan ibukota revolusi dan situs parlemen Jerman pertama yang dipilih secara demokratis. Untuk mengetahui hal ini lebih lanjut, pembaca bisa mengunjungi situs pertama yang akan kita bahas yaitu Paulskirche (Gereja Santo Paulus).

                                                           [Paulskirche dari luar]

 

Paulskirche terletak di Paulplatz, dekat dengan area Roemerberg dimana balai kota terletak. Masuk ke dalam gedung tidak dipungut biaya sama sekali. Dari pintu masuk, jalanlah ke arah kiri dimana layar tv besar yang memutar penjelasan dalam berbagai bahasa diputar. Selanjutnya searah jarum jam kita akan disajikan dengan paparan atau informasi lebih lanjut dari apa yang telah dijelaskan di layar sebelumnya. Karena dilengkapi dengan berbagai foto-foto, tulisan dan dokumen lama nan bersejarah tersebut, berjalan mengelilingi lantai pertama Paulskirche dijamin tidak membosankan (khususnya buat para pembaca yang menggemari sejarah negara Jerman J).

 

                                                               [Suasana parlementer di Paulskirche, simbol revolusi dan persatuan Jerman di Abad 19]

Jangan sampai terlewat karena begitu terlenanya dengan sejarah gereja ini, hampir di akhir putaran akan terdapat pintu menuju tangga ke atas untuk melihat auditorium Paulskirche, tempat dimana pidato-pidato terkenal dikumandangkan. John F Kennedy pada tanggal 25 Juni 1963 pernah menyampaikan pidatonya di sini ketika berkunjung ke Frankfurt. Konon pidato utama JFK pada saat itu adalah mengenai perubahan iklim. Wah, kira-kira sebenarnya mereka yang hadir saat itu benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan tidak yaa melihat keadaan iklim sekarang ini? :/

 

[Di dalam auditorium Paulskirche, apakah pembaca mengenali bendera-bendera yang digantung di situ?]

 

Setelah puas mengelilingi dan mempelajari Pauslkirche, juga tak lupa berfoto-foto di Paulplatz, area luas di depan gereja lengkap dengan taman, bangku, dan burung-burung, pembaca bisa memilih untuk beristirahat di area tersebut sambil mengunyah Kreppel, donat bulat empuk berisi selai pilihan (ada aprikot, stroberi, nanas, bahkan coklat!). Apakah pembaca tahu atau menyadari bahwa Kreppel ini punya beberapa alias: ‘Pfannkuchen‘ sebagaimana disebut di Berlin daerah asal si roti, atau ‘Berliner‘ sebagaimana disebut di berbagai daerah selain Berlin. Sekedar berbagi pengalaman mengenai roti bulat manis ini, penulis pernah berbincang dengan seorang teman yang lahir dan besar di Berlin dan ketika penulis berkata bahwa Pfannkuchen mereka adalah donat, wahh wajahnya langsung muram durja. Konsep kuliner sebagai identitas suatu daerah ternyata sangat berlaku untuk kasus ini 😀

                                                                                                                             [Ya, dua-duanya Berliner kok!]

 

Kembali ke Frankfurt dan pembaca yang sedang beristirahat untuk melanjutkan JJSnya, apabila pembaca ternyata adalah penikmat kopi, sangat disarankan mengunjungi Wacker‘s Kaffee. Berlokasi di Kornmarkt 9, jarak tempuh dengan berjalan kaki hanya sekitar 2-3 menit dari Paulplatz – dengan peta dan petunjuk yang tepat tentunya. Kedai kopi mungil ini berdiri sejak 1914 dan merupakan favorit warga Frankfurt. Kunjungan di waktu apapun akan diwarnai dengan wara-wiri warga sekitar (dan mungkin beberapa turis berwawasan :D) – pengunjung kedai kopi ini bermacam-macam, dari para senior/orang tua yang sekedar mengobrol sambil menikmati Apfelstrudel dengan kopi susunya, pekerja eksekutif yang memang membutuhkan dosis kafein hariannya, sampai pak polisi yang mampir untuk mengambil kopi favorit untuk menemaninya bertugas.

                                                                                                                          [Suatu siang di Wacker’s Kaffee]

Selesai beristirahat, dengan ataupun tanpa kopi, sekitar 240 meter dari Wacker’s Kaffee ke arah barat daya dengan peta manual, kita bisa mengarahkan langkah kaki ke destinasi selanjutnya di Grosser Hirschgraben 23-25, yaitu kediaman Johann Wolfgang Von Goethe. Lebih mudah dari melihat peta manual maupun Googlemap, ikuti saja petunjuk jalan dengan tanda panah bertuliskan “Goethehaus“, atau lebih mudah dan disarankan lagi tanyakan kepada pejalan kaki di sekitar “Wo ist das Goethehaus?“ (bagi yang baru saja belajar bahasa Jerman sangat dianjurkan untuk mempraktikan sedikit bahasa Jermannya ;D)

 

                                                                                                                               [Goethehaus ca 1750]

Di Goethehaus, pembaca yang berstatus pelajar akan mendapatkan diskon harga tiket masuk dari 7 Euro menjadi 3 Euro; oleh karena itu membawa kartu pelajar sangat penting untuk menunjukkan identitas di pintu masuk. Sangat disarankan ketika sudah di sini pembaca menyewa audio guide seharga 3 Euro, tidak hanya penjelasan dan cerita dari rumah dimana Goethe lahir dan besar dipaparkan, beberapa fakta menarik seperti situasi dan kondisi Frankfurt dan sekitarnya pada masa itu juga diceritakan. Museum ini sangat menarik bagi penggemar ataupun bukan penggemar sang penyair karena di samping cerita sejarah keluarga Goethe, pengunjung akan diajak melihat gambaran kehidupan keluarga menengah ke atas Eropa di abad XIII. Sebagai informasi, pembaca diharap menyimpan selfie stick atau tongsisnya yaa, larangan tegas tertulis di museum melarang pengunjungnya menggunakan tongsisnya. Mungkin (tapi semoga tidak) pernah ada kejadian tidak menyenangkan terkait turis dan tongsis di sini. Hm, mengingatkan saya khususnya akan kejadian kebun bunga di Indonesia :)

 

                                           [Selfie terkenal itu]

 

Oh ya, membicarakan kota Frankfurt mustinya tak lepas dari Frankfurter Buchmesse, pameran buku terbesar di dunia berdasarkan jumlah pengunjung yang diadakan setiap tahun di bulan Oktober, yang versi modernnya telah berlangsung sejak 1949. Belum lama ini, Indonesia sukses menjadi guest of honor di pameran yang kali itu bertemakan 17,000 Inseln der Imagination (imajinasi 17,000 pulau). 75 penulis buku dari Indonesia datang untuk bercerita bahkan mempromosikan buku baru mereka. Selain itu pameran ini juga diramaikan dengan berbagai dekorasi menarik dan kuliner a la Indonesia tentunya.

Sampai saat ini, penulis belum mengunjungi restoran Indonesia di Frankfurt, eksistensinya pun penulis belum menyelidiki lebih lanjut. Apabila pembaca memiliki pengalaman, rekomendasi, atau apa pun yang ingin dibagi untuk pembaca lainnya mengenai Frankfurt, dengan senang hati kami terima masukannya di kolom komentar di bawah!

Na ja, isch mach weider..*

*Auf Wiedersehen dalam bahasa Hessen

Note: Foto-foto dapat dilindungi hak cipta

 

Penulis : Dita Kusumawardani Saragih

(Studi Magister, Freie Universität Berlin)