Tak kurang dari 70% Bumi yang kita tinggali ini adalah lautan. Kita pun mengenal beberapa samudera besar seperti Samudera Pasifik, Samudera Atlantik, dan Samudera Hindia. Lautan ini pun melintang dari kutub utara hingga kutub selatan. Sehingga dengan cakupan yang luas tersebut lautan mempunyai peran yang cukup strategis bagi manusia khususnya, termasuk penelitian-penelitian yang dilakukan untuk menyingkap peran dan misteri dalam bidang kelautan ini.

Sebagai salah satu negara di Eropa yang berbatasan langsung dengan laut, Jerman memiliki fokus riset yang kuat dalam bidang kelautan. Walaupun secara luas batas lautnya tidak seluas negara kepulauan Indonesia atau negara Eropa seperti Inggris, Spanyol atau Portugal, namun Jerman memiliki sebuah konsorsium riset yang sangat kuat dalam bidang kelautan tersebut. Konsorsium ini bernama German Marine Research Consortium (KDM). Tidak mengherankan pula apabila anggota konsorsium tersebut merupakan institusi riset atau universitas yang berada di bagian utara Jerman yang notabene secara jarak relatif lebih dekat dengan laut.

Kalau dilihat secara geografis, memang hanya bagian utara Jerman saja yang berbatasan langsung baik dengan laut. Tapi jangan terlalu berharap bisa berenang di pantai dengan nyaman kalau tidak kuat dengan suhu permukaan laut yang relatif lebih dingin apabila kita bandingkan dengan pantai-pantai di Indonesia, jelas laah. Saya pernah mencoba berenang di tepian pantai Laut Utara pada saat musim panas, tetap saja gak kuat dengan dinginnya permukaan air, teringat hangatnya pantai di Karimun Jawa, pantai di Pulau Pramuka, atau bahkan pantai Pangandaran. Ah sudahlah, masih banyak juga pantai indah lainnya di Indonsia yang tidak dapat saya rinci lebih jauh biar tidak baper.

img_6008

Pantai di Utara Jerman yang Kerap menjadi Ajang Festival Kemaritiman.

Kembali ke masalah konsorsium bidang kelautan di Jerman. Tak kurang dari 16 institusi telah bergabung dengan konsorsium ini, berikut rinciannya:

  1. Alfred Wegener Institute Helmholtz Centre for Polar and Marine Research (AWI) Bremerhaven.
  2. Center for Earth System Research and Sustainability (CEN) Hamburg
  3. Department of Maritime Systems, Interdisciplinary Faculty, University of Rostock
  4. German Oceanographic Museum, Stralsund
  5. Senckenberg Research Institute, Wilhelmshaven
  6. GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel
  7. Helmholtz-Zentrum Geesthacht, Centre for Materials and Coastal Research
  8. Institute for Chemistry and Biology of the Marine Environment, University of Oldenburg
  9. Baltic Sea Research Institute Warnemünde (IOW)
  10. Jacobs University Bremen – School of Engineering and Sciences
  11. Kiel Marine Science – Centre for Interdisciplinary Marine Science, Kiel University
  12. MARUM – Center for Marine Environmental Sciences, University of Bremen
  13. Max Planck Institute for Meteorology (MPI), Hamburg
  14. Max Planck Institute for Marine Microbiology (MPI), Bremen
  15. Thünen Institutes, Aquatic Resources
  16. ZMT- Leibniz Centre for Tropical Marine Ecology, Bremen

Konsorsium tersebut melingkupi berbagai bidang terkait dengan kelautan, mulai topik riset dari sisi atmospherik nya, pesisir pantai, hingga kedalaman lautan. Bidang serta fokusnya pun berbeda-beda, mulai dari kondisi fisik lingkungan laut, organisme laut, hingga masalah sosial. Lokasi risetnya pun beragam, mulai dari kutub utara, perairan utara Jerman, hingga ke daerah tropis yang sangat jauh dari Jerman. Tentu saja alasannya tidak hanya melulu eksistensi dalam keunggulan riset para peneliti Jerman dalam percaturan riset kelautan di dunia. Tetapi juga bentuk peningkatan kapasitas dan transfer ilmu pengetahuan dengan negara lainnya termasuk negara di daerah tropis. Salah satu insitusi yang fokus ke daerah tropis adalah ZMT-Bremen dengan topik ekologi laut serta topik multidisiplin lainnya.

img_69881

MARUM adalah salah satu institusi dalam konsorsium

Sementara itu, ada contoh lainnya yaitu dalam bidang paleoceanografi dan paleoclimate, bidang-bidang ini mempunyai topik penelitian tentang iklim dan kondisi laut purba dimana tentu saja peralatan ukur modern belum hadir. Ternyata daerah tropis memiliki peran yang cukup sentral dalam perubahan iklim saat jaman purba, sehingga menarik para peneliti Jerman untuk melakukan riset di daerah ini. Hasil penelusuran penulis menunjukkan sebanyak 26% riset mengenai hal tersebut dilakukan oleh peneliti yang berafiliasi dengan institusi Jerman, dan sebagian besar berasal dari konsorsium ini, seperti MARUM dan GEOMAR. Jumlah tersebut memang lebih rendah dibandingkan dengan tingginya minat para peneliti Amerika Serikat dalam bidang dan lokasi yang sama dengan jumlah lebih dari 50% sejak tahun 1970-an.

Semangat kolaborasi antar institusi dalam konsorsium ini maupun dengan institusi internasional lainnya menunjukkan arti pentingnya kerjasama dalam sebuah riset kelautan dalam menjawab tantangan masa depan. Terhitung beberapa lembaga riset internasional lainnya menjadi partner dari konsorsium ini seperti national Oceanographyc Centre (NOC), Southamton, UK., University of Bergen, Norwegia, IFREMER Prancis, dan CIIMAR, Portugal. Selain itu, dengan kolaborasi ini akan memperkuat daya tawar konsorsium termasuk insitusi anggotanya saat berhadapan dengan pemerintah, lembaga donor dan publik.

Peningkatan kesadaran publik akan arti pentinya bidang kelautan juga disadari oleh konsorsium ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam mendukung riset yang mereka lakukan. Sehingga tak jarang institusi anggota konsorsium ini melakukan pendekatan kepada publik di Jerman melalui beberapa kegiatan seperti, pameran riset, seminar publik, open ship, dll. Hal tersebut tentu saja salah satu bagian dari pertanggungjawaban mereka kepada para pembayar pajak.

Sedangkan bagi para calon mahasiswa master ataupun doktor, bahkan para peneliti muda dalam bidang kelautan, konsorsium ini bisa menjadi petunjuk awal untuk mencari supervisor atau topik yang tepat untuk melakukan kerjasama riset dengan lembaga partner dalam konsorsium. Para calon mahasiswa dapat menelusuri lebih lanjut profil masing-masing instusi yang sesuai dengan minatnya, dan bisa melakukan kontak secara pribadi dengan supervisor potensialnya. Tak jarang pula konsorsium ini sendiri mempunyai proyek besar yang melibatkan institusi anggotanya.

Sesaat lamunan saya pun kembali tertuju ke sebuah negara kepulauan terbesar di daerah tropis sana. Luasnya lautan yang dimiliki Indonesia tentu saja membutuhkan perhatian yang sangat besar. Semangat kolaborasi dari berbagai institusi terkait di dalam negeri serta peran pemerintah yang kuat untuk mendorong akselerasi dalam bidang ini. Berharap secara positif bahwa proses itu sedang berlangsung. Semoga kita bisa mengambil bagian dan turut berkontribusi di dalamnya.

M.Yusuf Awaluddin

S3, MARUM, Bremen Universität