Herzlich Willkommen in Deutschland…kalimat ini akhirnya bisa kembali saya ingat setelah 4 tahun yang lalu kembali dari negeri di atas awan Jerman. Kesempatan kembali ke negeri terkaya di Eropa ini adalah berkah atas dikabulkannya do’a atas perjuangan panjang yang telah dan masih akan dilalui ke depan. Senang dan gembira saja belumlah cukup menggambarkan perasaan luar biasa saya menjadi salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia yang dikelola oleh LPDP, bolehlah saya megekspresikannya dengan menulis “bahagia bingit” untuk keberhasilan melalui perjalanan yang tidak semua bisa merasakannya. Setelah rangkaian proses pengurusan administrasi LPDP tibalah saatnya mengurus dokumen perjalanan alias visa. Jerman merupakan salah satu negara di Eropa yang menjadi tujuan pendidikan postgraduate bagi seluruh pelajar di dunia, alasan utamanya tentu saja selain karena atmosfer Eropa yang pasti selalu menarik juga karena sistem pendidikannya hampir secara keseluruhan perguruan tinggi di Jerman tidak mensyaratkan tuition fee bagi pelajar dari belahan negeri manapun tanpa membedakan ras, suku, agama, budaya, warna kulit bahkan pilihan capres (looh)…Bulan Juni yang lalu tepat 4 tahun setelah kepulangan saya dari Jerman, kesan pertama ketika mengurus visa Resident Permit di Deutsche Boscaft Jakarta bulan lalu tidaklah serumit dan “se-mengerikan” yang saya baca di blog-blog serta media sosial tentang mengurus visa di Kedubes Jerman-Jakarta. Sensasinya masih sama asyik dan mudah seperti saat mengurus visa tahun 2008, tidak banyak dokumen yang harus disiapkan atau bahkan harus menyediakan ijazah dalam bahasa Jerman seperti yang dituliskan dalam beberapa blog, saya pastikan semuanya PRAKTIS MUDAH dan MURAH!

Pasti ada yg penasaran dengan statement saya di atas kan? (sukur-sukur engga penasaran). Gimana ga mudah kalo saya bandingkan dengan mengurus visa ke United State atau British Visa I would say mudahnya mengurus visa Jerman masih lebih mudah dibanding jurit malam di Pangkalan Halim saat PK, masih lebih mudah dibanding sulitnya menahan kantuk saat session materi PK, bahkan last not least masih lebih murah biayanya dibanding beli tiket Batik Air dari Kupang ke Jakarta buat ikut PK xixixix…(just kidding) loh ya, seriously semua mudah dan murah asal kalian semua melengkapi syarat berikut:

  1. Bikin appointment, caranya susah ga? MUDAH nih klik di sini dengan hanya memasukan no paspor kamu sudah bisa register untuk jadwal interview visa selanjutnya kita akan dikirim notification lewat e-mail. Nah begitu bemberitahuan interview visa diterima segera PRINT email tersebut sebanyak 2x yang akan diserahkan pada saat kita masuk ke Hall pengurusan visa di Lt. 2 Kedubes Jerman. Oh ya, datanglah lebih pagi (SEJAM SEBELUM JADWAL INTERVIEW) biar anda terhindar dari kanker kulit akibat ngantri yang panjang sehingga kulit terbakar panasnya Matahari Thamrin yang menyengat hehehe
  2. APPLICATION FORM bukan VISA SCHENGEN TOURIST FORM loh ya, dapatnya dimana nih mahluk? Nih download Di sini print dalam ukuran A4 sebanyak-banyaknya otherwise kalau salah masih bisa buat lagi. Diisi dengan tinta biru dan tulisan yang terbaca tentunya. Untuk pengisian data mudah dan jelas kok ada petunjuknya dalam bahasa Inggris. Kalau masih gagal paham tulis saja apa yang kita ngerti, selebihnya serahkan pada mukjizat dan kebaikan visa officer yang ramah untuk mengoreksi from visa kita;
  3. PASSPORT INDONESIA yang berwarna HIJAU atau BIRU dan masih berlaku sekurang-kurangnya 6 bulan. Trus pasti ada yang nanya paspor Biru itu apaan? Itu paspor buat PNS/TNI/POLRI yang melakukan perjalanan ke luar negeri dengan tujuan dinas/tugas belajar dengan sumber pembiayaan dari APBN/APBD maupun scholarship dari donor (saya tidak akan membahas detail soal paspor BIRU/DINAS karena percayalah ini tidak terlalu menarik bukan);
  4. CERTIFICATE/DEGREE/TRANSKRIP S1 ATAU S2 semua dalam bahasa INGGRIS/JERMAN dilegalisir oleh Dean/Dekan. Di beberapa blog tetangga ditulis dengan “seram” kalau semua ijazah/STTB/transkrip harus dibikin dari mulai SD-SMP-SMA apakah itu benar???? Pengalaman saya bulan Juni lalu semua TIDAK DIPERLUKAN. Yang diperlukan kalau anda mau melanjutkan S2 cukup Ijazah/Transkrip TERAKHIR begitu pula kalau anda mau melanjutkan S3 cukup melampirkan Ijazah/Transkrip S2 berbahasa INGGRIS/JERMAN yang diterjemahkan oleh sworn translator yang diakui Kedubes Jerman di Jakarta. Bahkan kalau ijazah/transkrip S1 atau S2 kita sudah berbahasa Inggris itu bisa dipakai TANPA PERLU DI TRANSLATE LAGI. See, begitu mudahnya dokumen yang dipersyaratkan bukan??
  5. LoA alias Letter of Acceptance/ Letter of Offer/ADMISSION LETTER itu semua wajib dilampirkan sebagai bukti bahwa kita diterima di salah satu Uni di Jerman. Boleh foto copy ga??? Boleh bingit selama yang asli diperlihatkan;
  6. LoG aka Letter of Guarantee. Ini khusus pelamar visa yang akan kuliah dengan memperoleh pembiayaan dari pihak ketiga sebagai pengganti Blocked Account yang dipersyaratkan dalam pengurusan Visa Student/Resident Permit di Kedubes Jerman. Pertanyaannya susah ga minta LoG? Jawabannya GAMPANG selama kita lolos wawancara LPDP kemudian anda lulus PK, lebih dari itu selama anda mengembalikan draft LoG dan Kontrak yang dikirim LPDP (Mba Rema) dan mengembalikannya via pos ke LPDP untuk ditanda tangani Direktur Endowment Fund nya LPDP. That’s is! Perlu ASLI apa cukup Foto COPY? Jawabannya CUKUP FOTO COPY itu sudah cukup meyakinkan Visa Officer di LOKET 4 yang dikhususkan untuk pemohon Resident Permit/Visa Student;
  7. CV dan Motivation Letter dalam BAHASA JERMAN atau BAHASA INGGRIS. Yes, ini mutlak diminta sebagai dokumen yang menggambarkan siapa kita hingga perlu memohon visa ke Jerman dan apa yang akan kita lakukan selama kita di Jerman. Dengan kata lain dari CV dan MOTLET bisa menjadi protofolio bahwa kita ga cuma ngadon piknik ke Jerman hehehe…
  8. PAS FOTO 3.5cm x 4.5 cm (Foto BIOMETRIC) sebanyak 2 lembar berlatar putih. Pasti ada yang tanya bikinnya dimana dan gimana? Bikin foto ini ga lebih sulit daripada nyari lokasi PK di Graha Insan Cita di Depok looh hehehe…Datang ke studio foto bilang sama mas/mbak nya mau bikin foto buat visa dengan latar putih pasti mereka sudah paham. Kalo masih belum tahu kasih mereka ceramah singkat sampe mereka paham setelah itu giliran anda pasang pose jaim tanpa TERLIHAT GIGI jangan juga SENYUM DIPAKSA karena dipastikan hasilnya gakan bikin anda ca’em, trust me it works!
  9. UANG SEJUMLAH 960.000 IDR ekuivalen EUR 60. Uang pas akan lebih baik karena disana bukan Alfa Mart yang selalu tersedia receh kembalian ataupun permen buat pengganti uang. So ingat pesan Jasa Marga transaksi dengan UANG PAS akan berdampak terhadap kecepatan anda keluar gardu tol (looh). Kembali ke soal tarif, tentunya masih lebih murah dibandingkan biaya Visa Belanda yang mendekati 4.000.000 IDR atau bahkan Visa Inggris yang konon lebih mahal dari Belanda. Jadi kalau masih ada yang murah kenapa masih pilih yang mahal kan sayang uang rakyat dong ah…(dengan kata lain kuliahnya harus ke Jerman nih hehehe)
  10. Last but not Least, SEMUA DOKUMEN di buat dalam RANGKAP DUA serta disusun berurut dan digabung MEMAKAI KLIP TIDAK DI HEKTER kecuali anda penasaran ingin ngeliat wajah si mbak di LOKET 4 bertampang kaya Luiz Suarez xixixixix…

 

Well, saya pikir itu saja sih syarat dan prosedur mengurus visa student/reseident visa di Deutsche Boschaft Jakarta. Masih ada FORM SURAT PERNYATAAN yang akan diberikan pada saat kita sudah sampai di loket 4, itu adalah form tergampang dalam sejarah hidup saya berurusan dengan masalah administrasi. Gimana ga gampang wong cara ngisinya cuma centang-centang di kotak pertanyaan trus nulis no HP dan tanda tangan. See, bisa anda bayangkan semua aktifitas centang mencentang itu masih lebih gampang dibanding milih foto caleg waktu PILEG kemaren pokonyah…setelah itu selesai kita akan diminta scan sidik jari semua sebanyak 2x. Jadi pastikan SELURUH JARI anda ikut hadir di Kedubes Jerman karena sejatinya jari kaki kita belum bisa menggantikan kehadirannya (CMIIW).

DONE! Kalau semua proses di atas selesai kita hanya perlu tersenyum optimis, berharap selembar INVOICE VISA yang segera di scan untuk dikirim ke Mas Fendhy di LPDP segera berganti cash di rek BRI masing-masing berikut kedermawanan mas Fendhy mengirim Settlement Allowance pertama. Ini bisa menjadi penghibur dikala cemas menunggu keluarnya visa kita 8 minggu yang akan datang (ya delapan minggu…iya betul 2 bulan..eh maaf 60 hari denk).

 

Baiklah tulisan ini hanya curhat yang tidak terlalu bermakna silahkan dinikmati dan semoga tidak melahirkan rasa benci anda kepada penulis. Satu hal yang akan selalu saya ingatkan bahwa kamu yang lagi baca tulisan ini adalah saudara satu rahim saya..iya kamu dan aku adalah anak rahim LPDP.

Penulis : Roni Soesman (Awardee LPDP Jerman, S3 Technische Universitaet Berlin)

Repost dari : https://lpdp10.wordpress.com/