Repost from : rifluqman.wordpress.com

Penulis : Arif Luqman (LPDP-Jerman Awardee)

Jerman, negara yang termahsyur dengan kemajuan teknologinya dan di negeri kita, negara ini identik dengan Pak Habibie, presiden jenius kita.


Saat kuliah S1 akhir tahun ketiga, pihak kampus (ITS Surabaya) mensosialisasikan beasiswa fast track jerman. Beasiswa ini merupakan beasiswa untuk jenjang S2 dan S3 dimana S2 akan dilakukan di ITS sendiri dan dimulai pada tahun keempat mahasiswa S1 dan S3 dilakukan di Jerman.

Begitu mendengar akan ada seleksi beasiswa ini, sayapun sangat bersemangat untuk mendaftar dan alhamdulillah lolos (penerima beasiswa ini saat itu kira-kira 150an mahasiswa di ITS). Siapa yg gak tergiur dengan beasiswa macam ini, udah S1 dan S2 bisa ditempuh dengan (hanya) lima tahun dan bisa lanjut S3 ke Jerman setelah lulus S2 dengan syarat tertentu, yaitu score TOEFL ITP >550 dan mendapat LoA dari niversitas di Jerman.

Kuliah S2 akhirnya selesai dengan susah payah karena jurusan S1 dan S2 saya (terpaksa) tidak linier. S1 saya jurusan Biologi dan S2 saya jurusan Teknik Lingkungan. Ini karena Jurusan Biologi di ITS pada saat itu belum ada progam studi S2 nya sehingga para penerima beasiswa fasttrack harus mengambil jurusan lain yang paling “dekat” dengan Biologi. Sambil menyelesaikan kuliah S2, saya juga berusaha melengkapi persyaratan untuk mendapatkan beasiswa S3 di Jerman, yaitu TOEFL ITP 550 dan LoA dari Universitas di Jerman. Untuk TOEFL, pihak kampus menyelenggarakan kursus bahasa inggris gratis. Dan untuk LoA, alhamdulillah saya mendapat LoA dari Universität Tübingen, Jerman. Usaha mendapat LoA ini pun gak gampang, cerita lika-liku berburu LoA bisa dibaca di sini.

Sekarang, tinggal menyerahkan persyaratan untuk beasiswa S3 yg masih jadi satu dengan program fastrack. Pihak yg mengurusi beasiswa ini kemudian memberikan konfimasi bahwa kami semua (penerima beasiswa ini) tidak bisa secara langsung mendapat beasiswa S3 di jerman walaupun sudah memenuhi syarat di atas, kami harus mengikuti seleksi terlebih dahulu dan mendaftar di beasiswa IGSP (Indonesia-German Scholarship Program) yang diadakan DIKTI.

Dari 150-an penerima beasiswa fastrack Jerman ini, yang mendaftar IGSP ini hanya 5 orang saja. Sementara yag lain sudah ada jalan hidup sendiri yang harus ditempuh (eak..). Setelah 2-3 minggu menunggu akhirnya pengumuman. Dan, Jreng jreeeeng… Alhamdulillah nama saya termasuk yang lolos administrasi. Dari 5 orang teman yang mendaftar 2 yang lolos untuk maju ke tahap wawancara.

Karena saya dan teman saya yg juga lolos berbeda jadwal hari untuk wawancara akhirnya kami berangkat ke Jakarta sendiri-sendiri via kereta ekonomi dengan durasi perjalanan 13-14 jam.. Superrr sekalii.. 😀

Sampai di Jakarta dan numpang tidur di kos an Deka, teman SMP, SMA, dan Kuliah (satu kampus beda jurusan). Esok paginya berangkat menuju Gedung D Kompleks Kemendikbud lantai 10. Berangkat pagi tapi dapat giliran wawancara jam 5 sore.. hahahaha. Akhirnya ngendon numpang tidur di masjid kompleks Kemendikbud.

Sampai jam 4 sore, saya menuju gedung tempat wawancara dan registrasi. Waktu masuk ke lantai tempat wawancara langsung kaget!! Karena banyak bule Jermannya.. Langsung nervous sampai perut agak mules (penyakit bawaan :D).

Waktu giliran wawancara, nama saya dipanggil dan langsung masuk ke ruangan. Oh ya, ruangan wawancara dibagi-bagi sesuai dengan bidang riset yang diajukan atau jurusan yg akan dimasuki. Jadi interviewer merupakan orang-orang yg bener-bener qualified di bidang yg akan kita tekuni. Dan, yang nambah nervous ternyata yang interview ada 7 orang!!!!! 4 orang Jerman dan 3 orang Indonesia!! Beuh!!! Interview dilakukan full in English, dan saya menjawab dengan belepotan. Bukan belepotan karena nervous, tapi memang belepotan karena gak ahli bahasa inggris.. :p

Pertanyaan yang diajukan bisa dibagi dalam poin2 berikut :

  • Riset yang akan dilakukan, baik latar belakang, pengembangan, metodologi, dan semua seluk beluk riset yang akan kita lakukan.
  • Kesiapan kita hidup di Jerman, baik mental, akademis, dll
  • Rencana ke depan setelah lulus
  • Kenapa memilih Jerman, dan apa manfaat studi untuk negara kita dan negara Jerman.

Seperti yg sudah kita tahu, kebanyakan orang Jerman itu keras, dalam artian sangat disiplin dan profesional. Jadi saat ditanyai oleh interviewer dari Jerman rasanya… indescribable!! Untungnya masih ada interviewer dari Indonesia yang agak melumerkan suasana.. 😀 pfft. Interview berjalan kira-kira 60-70 menit tanpa terasa. Moderator wawancara mengatakan pengumuman akan dilakukan lewat email maksimal 2 minggu setelah wawancara.

. . .

Minggu liburan, saya habiskan untuk naik gunung Merbabu. Dan ternyata sesaat setelah turun gunung dan dapat sinyal, saya langsung dapat kabar dari teman kalau dia sudah terima email pengumuman kalau lolos dan dapat beasiswa IGSP!! Karena keadaan alam yang tidak memungkinkan (sinyal lemah banget), saya tidak bisa membuka email. Akhirnya saya menghubungi saudara di rumah dan meminta tolong untuk dibukakan email. Dan ternyata saya tidak dapat email, yang kemungkinan besar saya tidak lolos beasiswa IGSP. Mencoba menenangkan diri dan pulang ke kota kelahiran.

. . .

Sampai di rumah, saya mengecek email berkali-kali dan tetap tidak ada balasan. Keringat dingin mulai keluar, khawatir tidak lolos semakin besar. Akhirnya saya memutuskan mengirim email ke CP untuk IGSP dan beliau membalas yg kira-kira isinya:

“untuk yang lolos kemungkinan besar sudah menerima email semua tetapi karen ini belum sampai 2 minggu setelah wawancara maka ditunggu saja.”

Deg!!! Mbak-mbak CP ini gak menentramkan hati malah bikin dag dig dug. Setelah tiba hari yang ditentukan saya menelepon CP tsb dan mendapat konfirmasi bahwa kemungkinan sangat besar tidak lolos dan disuruh untuk menunggu hasil yang diumumkan via web DIKTI. Pfft.. semakin galau..

Tiap hari buka web DIKTI. Dan pada hari itu (lupa tanggal dan harinya.. hehe), pengumuman hasil seleksi wawancara IGSP keluar. Downloading pdf…. Dan….

Jeng jeng jeeeeengg….

Tidak ada nama saya disitu.. saya periksa berkali dan tetap gak nemu..

Dan akhirnya saya bingung, bingung hidup ini mau dibawa kemana.. (eak alay banget..)

…. Bersambung …