Lanjutan kisah pertama : MENGEJAR JERMAN!! #PART1 (GAGAL DAPAT BEASISWA IGSP)

Penulis : Arif Luqman (LPDP-Jerman Awardee)


Rasa galau, bingung, penat, dan down masih menyelimuti hati (ceilee..) beberapa hari setelah melihat pengumuman tertulis penerima beasiswa IGSP dan nama saya gak tercantum di daftar tsb. Sementara itu, sang Profesor dari negeri seberang menanyakan kapan kepastian berangkat. Pfft…

Beberapa minggu kemudian, di Gedung Pasca Sarjana ITS diadakan sosialisasi beasiswa LPDP. Saya memutuskan untuk hadir walaupun sudah tau beberapa hal dan mekanisme dalam beasiswa LPDP karena pada saat mengerjakan tesis, saya pernah mendaftar untuk program beasiswa tesis dan hanya sampai ke tahap wawancara. Hasil dari menghadiri sosialisasi tersebut adalah saya jadi tahu bahwa LPDP membuka pendaftaran sepanjang tahun dan melakukan proses wawancara 4 kali dalam setahun. Ternyata sosialisasi tersebut dilakukan untuk menginformasikan pada civitas akademik ITS bahwa dalam waktu dekat pendaftaran LPDP ditutup sementara dan dilakukan proses seleksi administrasi dan wawancara.

Saya langsung melengkapi persyaratan dan mengupload persyaratan tersebut via internet karena seleksi administrasi beasiswa LPDP ini dilaksanakan secara online. Persyaratan yg dibutuhkan juga gak berbeda jauh dari persyaratan beasiswa IGSP, jadi saya tinggal scan dokumen dan upload serta membuat 2 essay yang menjadi persyaratan wajib. Selain itu, saya juga mengusahakan untuk mendapatkan LoA dari pihak fakultas dari Universitas di Jerman yg saya lamar.

Pihak fakultas meminta syarat2 standar seperti fotokopi legalisir transkrip dan ijazah dalam bahasa inggris, ijazah sma dalam bahasa inggris, dan surat keterangan 30% lulusan terbaik (ini yang ngurusnya ribet banget) dan dikirim via pos!! Ya via pos alias regular mail!! Helllooo jaman gini ngirim dokumen persyaratan masih viaregular mail?? Saya keberatan bukan karena alasan metode pengiriman dokumen yang ketinggalan jaman sih, tapi lebih ke BIAYA!! Ya , biaya kirim dokumen sekuprit aja ke Jerman habis Rp 300.000… Beuh!! Yah apa boleh buat, demi…..!!!

2 minggu setelah pendaftaran online LPDP ditutup, diumumkan peserta yang lolos administrasi dan akan menerima undangan untuk wawancara, alhamdulillah saya lolos (perasaan udah biasa aja, karena udah sering lolos administrasi.. hehe). 1 minggu kemudian undangan wawancara di Gedung Pasca Sarjana ITS Surabaya. Tahap wawancara inilah salah satu tahap yang paling menentukan pada waktu itu, karena belum ada mekanisme tambahan berupa LDG (Leaderless Discussion Group). Wawancara yg diselenggarakan di ITS ini menguntungkan saya secara mental (karena sudah hapal medan) dan terutama secara finansial (karena gak perlu “capek” bayar transport ke kota lain.. hehe).

Hari H tahap wawancara saya datang ke lokasi wawancara (sengaja) tidak terlalu awal.. hehehe (jangan ditiru kecuali sudah tau medan). Tiba di lokasi, udah banyak peserta wawancara yg pada ngumpul. 10 menit sebelum dimulai nomor antrian wawancara ditempel dan saya dapat giliran pertama!! Ada yg beberapa peserta kebingungan karena ada persayaratan yg lupa belum diprint, akhirnya beliau meminta tolong saya mengantarkan untuk ke tempat print terdekat. Saya juga bingung, karena waktu mepet dan saya juga giliran wawancara pertama. Akhirnya saya memetuskan untuk mengantar ke perpustakaan lantai 3, lift mati dan terpaksa harus naik tangga. Apesnya sambungan listrik di lantai 3 mati, petugas lantai 3 menyarankan kami untuk naik ke lantai 5. Kami pun naik dengan tangga (lagi) ke lantai 5. Petugas lantai 5 mengatakan kalau di lantai 5 juga tidak bisa print dokumen. Pfft… kami pun berjalan keluar perpustakaan dan berjalan ke jurusan terdekat, teknik perkapalan. Setelah tanya kanan kiri mahasiswa di sana, katanya tidak bisa ngeprint dokumen karena petugas ruag baca sedang keluar. Kamipun memutuskan untuk keluar kampus menggunakan mobil salah satu dari peserta yg juga butuh print persyaratan. Finally, print persyaratan sudah dilakukan dan memakan waktu >30 menit akibat muter2 gak jelas. 😀

Kembali ke lokasi, dan ternyata wawancara sudah dimulai. Dengan tergopoh2, saya bertanya ke panitia yg berjaga di depan ruang wawancara tempat verifikasi dokumen. Beliau pun menjelaskan kalau tadi saya sudah dipanggil beberapa kali tidak muncul jadi langsung dilompati ke peserta selanjutnya. Leganya, beliau memberi pemakluman setelah saya jelaskan akibat keterlambatan dan memberi kesempatan setelah peserta (yang seharusnya) nomor urut 2 keluar.

Akhirnya nama saya dipanggil masuk ke ruangan wawancara. Tidak begitu tegang kalau dibandingkan saat wawancara IGSP yg banyak bulenya. Kali ini interviewernya 3 orang, beliau-beliau ini terdiri dari 2 profesor dan 1 psikolog.

Pertama masuk ruangan, melihat 3 interviewer memegang berkas dan laptop masing-masing. Iterviewer pertama menanyakan kenapa saya terlambat dan saya menerangkan alasannya, beliau pun memaklumi (Lega banget… :D). Interview berjalan dengan menggunakan bahasa inggris dan di akhir menggunakan bahasa Indonesia selama kurang lebih 45 menit tanpa terasa. Panitia mengatakan bahwa pengumuman hasil wawancara keluar 2-3 minggu setelah wawancara.

Sekedar tips untuk para pendaftar beasiswa LPDP yang akan melaksanakan tahap wawancara, berikut kira-kira poin wawancara yg ditanyakan kepada saya :

  • Segala hal mengenai isi CV, baik organisasi, IPK, prestasi, pengalaman dll. Poin ini berfungsi untuk melihat apakah isi CV kita benar atau tidak.
  • Rencana studi, riset yg dilakukan, dan alasan memilih universitas dan bidang
  • Kesiapan kita untuk menghadapi budaya baru, dan semua hal baru lain di LN
  • Rencana masa depan setelah lulus kuliah
  • Poin tambahan (tergantung isis esay kita, CV, dll)

Tiap minggu ngecek web LPDP dan tepat 3 minggu pengumuman hasil wawancara keluar. Download PDF….. (loading). Double click. Baca nama peserta yg lolos wawancara untuk program doktor luar negeri satu persatu……. sreet sreeeet deg deg deg *bunyi mouse bareng sama jantung deg degan*. Jreng jreeeeeng…. Alhamdulillah nama saya tercantum!!! Cek sekali lagi nama dan nomor peserta dan alhamdulillah sesuai. Rasanya seneeeeng pol notog jedok.. 😀

Eh perjuangan buat dapat beasiswa ke Jerman belum selesai broo. Ya, tahap selanjutnya adalah Pelatihan Kepemimpinan alias PK. Saya mengajukan jadwal PK terdekat yaitu ikut PK 10. Alhamdulillah lagi jadwal PK yg keluar sesuai dengan yg saya ajukan.

Dua minggu bergelut dengan tugas pra PK yg lumayan bejibun dan bikin orang buka email tengah malam dan pagi buta 😀. Kemudian berangkat ke Depok untuk pelaksanaan PK selama 2 minggu. Selama PK ketemu dengan orang2 yg super2 semua.. bener2 pengalaman Luar Biasa!! (Beneran gak bo’ong). Selama PK kami semua dimasukkan ke dalam kelompok2 kecil dan saya masuk ke kelompok Kolaborasi, kelompok yg terkenal dengan “kegagalan”nya :p. Tapi jangan salah kegagalan ini yg bikin kami sangat dekat, kayak keluarga sendiri.. hehe. Kegagalan adalah sukses yg tertunda, quote diatas cocok banget buat kelompok kami yg akhirnya dapet juara 3 visualisasi mimpi dan juara 1 apresiasi budaya. PK berakhir dan pengumuman akhir penerima beasiswa LPDP akan dilakukan via email paling lambat 2 minggu setelah PK berakhir. Hal-hal yg berkaitan dengan PK 10 bisa dilihat disini.

Pulang ke Surabaya untuk masuk ke kursus bahasa Jerman pertama kali yg udah bolos 5 hari pertama karena harus ikut PK. Awalnya tolah-toleh kowah kowoh karena gak ngerti di kelas orang2 pada ngomong apa.. hahaha. Di kelas superintensiv ini pengajarnya ada dua yaitu Frau Kiky (orang Indonesia asli yg pernah kuliah di Mainz setahun) dan Herr Schreiber (orang Jerman yg lama tinggal di Amsterdam). Karena les setiap hari (senin-jumat) dari pagi sampai siang, kami para peserta les jadi kayak keluarga kecil (nemu lagi keluarga kecil.. hehe), akrab banget.

2 minggu berjalan tapi pengumuman belum keluar. Para peserta PK 10 banyak yg menghubungi LPDP untuk menanyakan kepastian pengumuman. Seminggu kemudian, pagi2 setelah berangkat ke Goethe Institut, ada email masuk. Klik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Alhamdulillah… saya dinyatakan sebagai awardee LPDP program doktor luar negeri.. senengnya bukan main.. langsung koprol ribuan kali *tapi dalam pikiran* heheheh 😀

Perjuangan belum berakhir di sini, masih ada pengurusan visa ke jerman, dan hal-hal lainnya.

Semoga di kesempatan lain, saya bisa menceritakan pengalaman pertama mendarat di Jerman. 😀

Moral of this story :

– Jangan pernah menyerah, selalu ada jalan bagi yang terus berusaha

– Don’t be afraid to dream and don’t let your dreams just be dreams.

Repost from : rifluqman.wordpress.com